Sebelumnya
Kepada BBC, sepupu Mujinga yang bernama Agnes Ntumba meyakini lingkungan kerjanya cukup aman. Namun, Ntumba mengkritik kebijakan stasiun yang menempatkan Mujinga sebagai orang yang masuk dalam kelompok rentan Covid-19, di garda terdepan.
"Mereka seharusnya tidak membuatnya bekerja di area publik. Mujinga seharusnya tidak mati dalam kondisi seperti ini. Kita bisa mencegahnya, jika mereka punya lebih banyak APD," papar Ntumba.
Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Pegawai Transportasi (TSSA) Manuel Cortes mengaku sangat terkejut mendengar kematian Mujinga. Cortes mengatakan, dia adalah salah satu dari banyaknya pekerja garis depan yang kehilangan nyawa, karena virus Corona".
Baca juga : Luar Biasa, Waskita Teken Kontrak Baru Triliunan Rupiah Dalam 3 Bulan
"Sebagai orang yang rentan dalam kategori 'berisiko' dan kondisinya diketahui oleh majikannya, patut dipertanyakakn mengapa dia tidak mundur dari tugas garis depan sejak awal pandemi ini," kata Cortes.
Insiden Tragis
Govia Thameslink Railway (GTR), perusahaan tempat Mujinga bekerja, menanggapi tudingan tersebut dengan sangat serius. GTR menyebut, pihaknya sedang menyelidiki semua klaim.
Baca juga : Efek Pandemi Covid-19, Permintaan Nanas Banasari Makin Meningkat
"Keselamatan pelanggan dan staf, termasuk pekerja kunci, senantiasa menjadi perhatian kami. GTR selalu mengikuti saran pemerintah terbaru," ujar Angie Doll, mewakili GTR.
Data terbaru menunjukkan, pekerja Transport for London (TfL) yang meninggal dunia karena terjangkit Covid-19 berjumlah 42 orang, di samping 10 staf Network Rail. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.