BREAKING NEWS
 

Dari Islamofobia Hingga Puasa

Ini Lho, Tantangan Jurnalis Perempuan Muslim Di AS

Reporter : PAUL YOANDA
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Kamis, 22 April 2021 05:30 WIB
Jurnalis perempuan Muslim di Amerika Serikat. (Foto : Istimewa).

 Sebelumnya 
Rummana Hussain, jurnalis perempuan Muslim lainnya bercerita, bagaimana orangtuanya sempat pesimis akan masa depannya. “Bagaimana saya bisa mendapatkan pekerjaan karena nama dan fisik yang bisa dibilang asing bagi masyarakat AS,” katanya, di acara yang sama.

Pada akhirnya, perempuan keturunan India itu, memutuskan menjadi wartawan. Dia mengaku senang berbicara atau bertemu dengan orang lain. Hussain juga senang melihat atau mendengar hal-hal penting yang terjadi setiap hari. “Makanya, meskipun saat ini sebenarnya saya adalah editor, tapi saya masih terus menulis. Khususnya yang berhubungan dengan Muslim,” terang Hussain.

Baca juga : Sri Mul, Khofifah, Dan Risma, Perempuan Tervokal Di Media Massa

Menurutnya, saat ini sebenarnya masih perlu lebih banyak lagi Muslim yang menjadi wartawan di AS. “Karena seperti yang kita lihat bersama, Islamofobia berkembang begitu cepat,” ujar wartawan Chicago Sun Times itu.

Sedangkan Nia Iman Santoso, wartawan Voice of America (VoA) menyebutkan sejumlah tantangan yang harus dihadapinya sebagai jurnalis perempuan Muslim di AS, karena ia menyampaikan informasi pada masyarakat Indonesia.

Baca juga : Usai Dilantik jadi Anggota MPR, Rizal Tancap Gas Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Dia menilai, mencari topik yang dibahas jadi tantangan tersendiri. Nia juga harus mencari sumber yang benar-benar berkompeten untuk dimintai informasinya.

Namun, semuanya itu perlahan bisa diatasi. Sepanjang 15 tahun kariernya sebagai wartawan di AS, Nia membangun jaringan mulai dari wong cilik hingga elite. Dia juga terbantu dengan adanya media sosial. “Sehingga saya juga bisa menambahkan informasi pada topik yang saya sampaikan,” terang Nia.

Baca juga : Pertamina Pastikan Kilang Balongan Kembali Beroperasi

Kata dia, ada beberapa macam topik yang biasanya menarik bagi para audiens Indonesia. Pertama adalah mengenai pertumbuhan Muslim di AS. Bicara pertumbuhan, lanjutnya, sebenarnya tidak hanya bicara soal pertambahan jumlah. Tapi adalah bagaimana cara Islam menjadi bagian kehidupan orang di AS.

Tantangan berikutnya, lanjut dia, adalah bagaimana dia bisa bercerita tentang kehidupan Muslim di AS. Baginya, wawancara bukan sekadar soal mendapatkan berita. Tapi juga soal seseorang yang mau bercerita. “Saya bisa mendapatkan cerita dari imigran-imigran Muslim yang datang ke AS,” terangnya. [PYB]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense