BREAKING NEWS
 

Catatan Perjalanan Ke Kazakhstan (5)

Sahur Sebelum Jam 3 Subuh, Buka Puasa Jam 9 Malam!

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Selasa, 28 Mei 2019 02:42 WIB
Bersama Yussup Tumgoyev, Muslim Kazakhstan, mahasiswa Ilmu Komputer, Nazarbayev University, di Masjid Hazrat Sultan, Nur-Sultan.

RM.id  Rakyat Merdeka - Acara Astana Economi Forum (AEF) di Nur-Sultan, Kazakhstan pertengahan Mei lalu, selain bertepatan dengan musim semi, juga bertepatan dengan bulan Ramadan.

Namun meski musim semi, ternyata suhunya masih lumayan dingin bagi kita yang biasa tinggal di Indonesia. Atau Asia Tenggara yang umumnya memang hangat. Rata-rata temperaturnya berkisar antara 10 hingga 20-an derajat Celsius. Lumayan.

Tapi kalau “sore” hari temperaturnya malah kian drop, hingga membuat gigi gemeretuk kedinginan. Sore di sini, maksudnya sekitar jam 19.00-an. Karena matahari pada pertengahan Mei ini umumnya tenggelam sekitar jam 20.00-an “petang”. Yang buat kita di Indonesia, jam 17.00-an biasanya sudah mulai disebut malam hari.

Lagi-lagi berkaitan Ramadan, jadwal shalat dan mereka yang berpuasa di Kazakhstan, jadi menarik nih, bila membandingkannya dengan kita di Indonesia. Di hari pertama saat mau liat jadwal sahur sebelum masuk waktu Subuh, lumayan kaget. Karena waktu shalat Subuh jam 02.52! What!? Hehe… Artinya, kalau memang mau sahur, ya sekitar jam 02.00-an atau 02.30-an, kan!?

Juga karena kebiasaan di kita Maghrib sekalian buka puasa sekitar jam 18.00-an, “Nih di Nur-Sultan sudah jam 6-an sore kok matahari masih nggak turun-turuuun?!” Ternyata Maghribnya jam 20.57!! “Hampir jam 9 malam,” kata kita di Jakarta mah, ya!?? Hehe.

Baca juga : Sahur, Ifthar, dan Kiblat

Tapi ya itu tadi, karena suhunya lumayan sejuk, malah dingin, terutama bila kondisinya cukup berangin di luar ruangan, bagi mereka yang berpuasa, ya tidak terlalu kehausan. Meskipun berpuasanya sedikit lebih panjang, sekitar 17 jam. Dibanding keadaan kita di Indonesia, yang sekitar 13-an jam. Kesibukan di acara AEF pun jadinya terasa biasa-biasa saja.

Yang juga menarik, karena bertepatan hari Jumat, saat AEF break siang, di depan gedung tempat acara berdiri beberapa relawan sambil memegangi kertas bertuliskan ‘mosque’. Masjid. Ternyata panitia AEF pun menyediakan layanan mobil khusus ke masjid, bagi mereka yang ingin melaksanakan shalat Jumat. Setelah basa-basi sedikit, saya pun langsung masuk mobil dan, berangkat!

Saya ditemani seorang mahasiswa relawan di acara AEF ini. Namanya Yussup Tumgoyev, mahasiswa Ilmu Komputer di Nazarbayev University. Sebuah kampus bergengsi di Kota Nur-Sultan. Bahkan di Kazakhstan. Kami menuju ke masjid terbesar di Kazakhstan, Masjid Hazrat Sultan.

Adsense

Setelah sekitar 15-an menit naik mobil, sudah terlihat lapangan parkir mobil yang amat luas, namun sudah dipenuhi mobil yang lebih dulu parkir. Kami agak kesulitan parkir, karena ternyata datang agak telat.

Sambil mengagumi keindahan masjid dari luar, kami menuju tempat wudhu di dalam. Ternyata kami harus kembali berjuang. Karena umumnya shaf jamaah sudah luber hingga ke pelataran masjid.

Baca juga : Nur-Sultan, Peraih Anugerah ‘Kota Perdamaian’ UNESCO

Umumnya ternyata jamaah shalat Jumat di masjid ini adalah anak-anak muda. Yang boleh jadi mereka lahir setelah berdirinya Kazakhstan merdeka. Jadi tidak pernah hidup di bawah Uni Sovyet yang melarang agama apapun, termasuk Islam. Selain itu, ternyata jamaah perempuan, umumnya kaum ibu, juga banyak yang ikut shalat Jumat.

Setelah sedikit berjuang ke tempat wudhu dengan melewati jamaah yang sudah duduk rapi di shaf, kami memperhatikan khatib yang sedang berkhutbah dalam bahasa Kazakh. Tak berapa lama kemudian dikumandangkan iqamat, tanda dimulainya shalat Jumat. Seluruh jamaah berdiri untuk memulai shalat Jumat. Alunan bacaan imamnya merdu, sehingga saya sangat menikmati.

Dimulai dari bacaan surah al-Fatihah. Sampai ketika sang imam membaca ayat terakhir al-Fatihah, seperti biasa, spontan saya sebagaimana jamaah lainnya di Indonesia, mulai tarik nafas, untuk mengucapkan kalimat ‘Aaamin’ dengan nyaring. Saya pun mulai, “Aaa….”

“Astaga! Kok hening!? Pada diam!?” dalam hati saya, tiba-tiba. Untungnya saya belum menyempurkana kalimat ‘Aaamiin’ dengan nyaring seperti umumnya di Indonesia. Atau bahkan seperti di Mekkah.

Saya pun tiba-tiba ingat, bahwa umat Islam di Kazakhstan, seperti juga misalnya di Turki, atau Afghanistan, mereka menganut Madzhab Hanafi. Mereka tetap membaca kalimat Aaamiin, namun sangat perlahan. Cukup hanya didengar si pembacanya saya. “Haaampir saja, saya malu, gara-gara baca Amin nyaring sendirian satu masjid,” dalam saya. Hehe.. (Bersambung)

Baca juga : Telur Emas & Tenda Terbesar Dunia Di Jantung Eurasia

Muhammad Rusmadi,

Wartawan Rakyat Merdeka

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense