Dark/Light Mode

Catatan Perjalanan Ke Kazakhstan 3

Nur-Sultan, Peraih Anugerah ‘Kota Perdamaian’ UNESCO

Minggu, 26 Mei 2019 03:25 WIB
Pemandangan Bayterek Tower di salah satu pusat Kota Nur-Sultan, Kazakhstan. (Foto: Gerd Ludwig/astanatimes)
Pemandangan Bayterek Tower di salah satu pusat Kota Nur-Sultan, Kazakhstan. (Foto: Gerd Ludwig/astanatimes)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kedatangan saya ke ibukota Kazakhstan, Nur-Sultan, ternyata hanya sekitar dua bulan setelah kota tersebut diberi nama baru dengan nama tersebut. Sebelumnya, kota ini bernama Astana, yang dalam bahasa Kazakh artinya adalah ‘ibukota’.

Nama itu diambil dari nama Presiden Pertama Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev pada Maret 2019 (penulisan nama ibukota biasanya dengan menambahkan strip pemisah antara Nur dan Sultan. Sementara nama sang presiden pertama, langsung disambung). Hal ini dilakukan untuk menghormati Presiden Nazarbayev, yang mengundurkan diri setelah menjabat selama hampir 30 tahun.

Perubahan nama ini berawal dari usulan Presiden interim Kassym-Jomart Tokayev. Dia mengusulkan perubahan nama ibukota ke Parlemen Kazakhstan pada 19 Maret 2019. Melalui pemungutan suara, secara resmi ibukota Kazakhstan berubah nama dari Astana menjadi Nur-Sultan. Sejak ibukota berpindah dari Almaty, Astana sebenarnya sudah lama ingin berganti nama. Seperti Akmola, Tselinograd, dan Akmolinsk.

Nur-Sultan sendiri “baru” 22 tahun (1997) difungsikan sebagai ibukota. Sebelumnya, ada kota kecil bernama Akmola di sana. Adalah Presiden Pertama Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, yang berinisiatif memindahkan ibukota dari Almaty ke kawasan tepi Sungai Ishim, di bagian utara Kazakhstan ini.

Baca juga : Telur Emas & Tenda Terbesar Dunia Di Jantung Eurasia

Menurut Nazarbayev, Nur-Sultan tidak muncul dari angan-angan. Dulu, di sana, menurut Nazarbayev dalam bukunya yang berjudul "Di Tengah Eurasia", terdapat sebuah ibukota kuno yang merupakan perlintasan Jalur Sutra. Terdapat dulu kota kecil bernama Bozok, yang kini berjarak 5 kilometer dari pusat Nur-Sultan.

Di awal abad 19, berkembanglah kota Akmola, yang masa itu dinamakan Akmolinsk. Yaitu sebuah pusat bisnis dan ekonomi di kawasan Asia Tengah. Populasinya saat itu diperkirakan sudah mencapai ribuan orang.

Lalu di pertengahan abad ke-20, ketika Kazakhstan menjadi bagian dari Uni Soviet, kota itu dinamai Tselinograd. Pada Desember 1960, sekitar 100 ribu orang tinggal di sana. Baru pada 1992, namanya kembali menjadi Akmola. Kemudian pada Mei 1998, berubah menjadi Astana.

Menurut laman resmi Ibukota Nur-Sultan, pemindahan ibukota dari Almaty karena beberapa alasan. Almaty terletak di pojok tenggara negeri dengan populasi lebih dari 1,5 juta orang. Perkembangan urban di Almaty tidak memungkinkan untuk pengembangan kota. Almaty memiliki problem lingkungan jika dikembangkan lebih jauh. Termasuk juga karena lahannya yang terbatas karena banyak pegunungan. Ditambah juga kawasan Almaty yang rawan gempa.

Baca juga : Taburan Bintang Di Astana Economic Forum

Nursultan Nazarbayev menyebut, setidaknya ada 32 faktor mengapa Nur-Sultan dipilih menjadi ibukota. Antara lain karena faktor sosial-ekonomi, cuaca, bentang alam, kondisi seismik, lingkungan, infrastruktur transportasi, fasilitas jasa konstruksi dan sumber daya manusia.

Namun, faktor utama adalah, karena Kazakhstan yang terjepit di antara benua Asia dan Eropa. Sehingga kondisi ini dinilai membutuhkan simbol nasional baru. Sebuah ibukota baru, kota di abad ke-21, yang menggambarkan semangat penciptaan, inovasi dan peran Kazakhstan sebagai tempat timur dan barat bertemu.

Hingga pada 1999, ibukota ini meraih anugerah "Kota Perdamaian" dari UNESCO, sebuah tanda keberhasilan sosial dan ekonomi, hanya dua tahun setelah ia resmi jadi ibukota baru. Menurut UNESCO, kota yang saat itu masih bernama Astana, menjadi simbol cerah dari kemerdekaan Kazakhstan.

Nur-Sultan sebagai kebanggaan Republik Kazakhstan, memang tampak dari banyaknya bangunan yang mercusuar yang sengaja dibangun. Bahkan sejak menjadi ibukota Kazakhstan, Nur-Sultan terus berkembang secara ekonomi, bahkan menjadi salah satu kota paling modern di Asia Tengah.

Baca juga : Dioperasikan, Double Track antara Stasiun Kroya-Randegan-Kebasen

Karena memang sejak awal, Nur-Sultan modern adalah kota terencana, seperti halnya ibukota yang terencana lainnya. Master plan Nur-Sultan dirancang oleh arsitek Jepang Kisho Kurokawa. Kota ini merupakan rumah bagi banyak bangunan futuristik, hotel dan gedung pencakar langit. Nur-Sultan juga memiliki sistem perawatan kesehatan, olahraga dan pendidikan yang luas. (Muhammad Rusmadi/Rakyat Merdeka)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.