Tausiah Politik
Sebelumnya
Sebuah partikel yang mengalami proses pemadatan jika mencapai puncak pemadatannya akan melahirkan ledakan. Sebaliknya sebuah partikel yang terus menerus mengalami pengembangan maka pada akhirnya juga akan meledak, seperti balon yang ditiupkan udara ke dalamnya, semakin banyak udaya masuk semakin membengkak balon itu dan pada puncaknya juga akan terjadi ledakan. Jadi, ledakan bisa terjadi karena pemadatan dan ledakan bisa juga terjadi karena pengembangan.
Baca juga : Memahami Makna dan Hakekat Basmalah (1)
Perbedaan mendasar antara filsuf dan sufi ialah konsep asal-usul penciptaan alam semesta. Kalangan filsuf berpendapat bahwa asal-usul alam semesta (universe) ialah terjadi dengan sendirinya (creatio ex nihilo), meskipun kalangan filsuf lainnya tidak puas, karena memang susah dinalar secara logika murni bagaimana ada sesuatu tanpa ada yang mengadakannya, bagaimana sebuah ciptaan (makhluq/creation) bisa tercipta tanpa ada pencipta (khaliq/creator). Bagi para sufi, terjadinya al-a’yan al-kharijiyyah adalah kelanjutan dari ta’ayyun awwal, yaitu proses dari Ahadiyah ke Wahidiyyah¸yakni dari sisi Tuhan sebagai Sirr al-Asrar/the Secret of the Secred kemudian ingin mengenal diri-Nya lalu memperkenalkan diri-Nya melalui Sifat-sifat dan Nama-namanya. Sisi Tuhan yang pertama disebut Ahadiyyah dan sisi yang terakhir disebut Wahidiyyah (supaya tidak confious lihat artikel terdahulu tentang Ahadiyyah dan Wahidiyyah dan al-A’yan al-Tsabitah).
Baca juga : Memahami Makna dan Hakekat Ta’awwudz (2)
Sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT yang ada di dalam al-A’yan al-Tsabitah menuntut konsekwensi, maka proses entitas terus berlanjut dan tidak hanya berhenti di al-A’yan al-Tsabitah. Sulit memahami Allah sebagai Rabb dan Ilah tanpa marbub dan ma’luh yang menyembahnya. Sulit difahami Tuhan sebagai Maha Pencipta (al-Khaliq) tanpa makhluq. Sulit memahami Allah SWT Maha Pemberi (al-Wahhab) tanpa obyek yang diberi (mauhub), dan seterusnya. Konsekwensi inilah yang melahirkan alam semesta yang merupakan kelanjutan proses dari al-A’yan al-Tsabitah. Beda antara keduanya ialah al-A’yan al-Tsabitah, entitasnya permanen atau biasa disebut wajib al-wujud. Sedangkan alam semesta, termasuk manusia, adalah entitas baharu (al-a’yan al-hawadits) atau biasa disebut dengan mumkin al-wujud. Baik yang pertama maupun yang kedua, asal-usulnya terlacak dan jelas, semuanya dari Allah SWT. Allah SWT disebut Ibnu Árabi sebagai al-Haqq dan makhluk-Nya disebut al-khalq. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.