Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur'an (20):

Bagaimana Merasakan Kehadiran Wahyu? (2)

Selasa, 11 April 2023 07:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Di antara kesulitan merasakan kehadiran wahyu di dalam kalbu karena belum jelasnya apa yang dimaksud wahyu. Kita sebagai bangsa Indonesia yang belum semuanya bisa menangkap dzauq al-lugah bahasa Arab, belum bisa merasakan makna semantic kata wahyu, karena kita tidak memiliki kosa kata yang sepadan dengan wahyu. Kita terpaksa mengindonesiakan kata wahyu itu sebagai inspirasi cerdas dari Tuhan yang diperuntukkan kepada Nabi.

Baca juga : Bagaimana Merasakan Kehadiran Wahyu? (1)

Inspirasi cerdas yang turun kepada manusia non-nabi hanya bisa mengakses ilham atau ta’lim. Dengan demikian, makna wahyu menjadi identik dengan Al-Kitab atau al-Qur'an. Padahal, ketiga istilah ini, di samping mempunyai persamaan juga mempunyai perbedaan. Semua ayat-ayat dalam Al-Qur'an dan atau al-Kitab (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an) adalah wahyu, namun tidak semua wahyu adalah Al-Qur'an atau al-Kitab). Al-Qur'an mengisyaratkan ada wahyu yang tidak ditujukan kepada nabi atau kepada manusia, melainkan kepada non-nabi dan jenis hewan, sebagaimana diungkapkan dalam ayat: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (Q.S. al-Nahl/16:68).

Baca juga : Pendekatan Hermeneutika (3)

Kita bisa terbantu menangkap makna holistik wahyu jika mencari padanannya di dalam bahasa Inggris. Wahyu dalam bahasa Inggris secara literal sering diartikan dengan to reveal (menyingkapkan), to show, expose (menunjukkan), to xplosure (memberitahukan), to inform (mengumumkan), to appear (menyatakan), to make known (mengungkapkan), to display (memperlihatkan), to disclosure (memberitahukan), to discover, to open (membuka). Dengan demikian, wahyu dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang tadinya tersembunyi menjadi nyata, sesuatu yang tadinya misteri dan tidak diketahui menjadi diketahui dan difahami, sesuatu yang tadinya gaib menjadi syahadah atau disaksikan.

Baca juga : Pendekatan Hermeneutika (2)

Wahyu sering dijelaskan secara sederhana sebagai petunjuk Allah Swt ditujukan kepada Nabi-Nya melalui malaikat Jibril dengan maksud untuk dijadikan petunjuk bagi umat manusia di dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba dan sebagai khalifah. Wahyu adalah model petunjuk Tuhan paling tinggi yang kualifikasi kebenarannya sering disebut dengan haqq al-yaqin, atau kebenarannya 100 persen. Ilham adalah petunjuk Tuhan yang diperuntukkan kepada para wali atau kekasih-Nya. Kualifikasi kebenarannya biasa disebut 'ain al-yaqin atau kebenarannya di bawah 100 persen tetapi di atas 90 persen. Sedangkan petunjuk lainnya lebih umum biasa disebut dengan ta'lim, yakni informasi cerdas yang diperoleh melalui usaha seperti belajar. Kualifikasi kebenarannya hanya sampai keadaan 'ilm al-yaqin yang kebenarannya sekitar 75 persen. Yang pertama dan yang kedua lebih merupakan petunjuk personal, tidak mutlak harus disampaikan kepada umat lainnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.