Tausiah Politik
Sebelumnya
Nabi bukan hanya menonjolkan anti nepotisme dalam soal harta atau hukum tetapi juga soal jabatan politik. Nabi samasekali tidak pernah menunjukkan isyarat mempersiapkan pengganti atau putra/putri mahkota yang akan menggantikan dirinya sebagai kepala pemerintahan di Madinah, meskipun ia mempunyai beberapa kerabat dekat.
Ia mempunyai anak perempuan, Fatimah di samping suaminya, Ali atau keluarga dekat lainnya. Bisa saja ia paksakan salahseorang di antaranya menjadi pewaris tahta pemerintahan tetapi itu tidak pernah dilakukan.
Baca juga : Menutup Pintu Korupsi: Sogok (Risywah)
Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama menggantikan dirinya bukan dipersiapkan oleh Nabi tetapi terpilih secara aklamasi dari berbagai kelompok yang menghadiri sidang suksesi di Bani Tsaqifah.
Para peserta terdiri dari tokoh-tokoh utama Suku ‘Aus, Suku Hazraj, tokoh-tokoh etnik minoritas, termasuk kaum muhajirin yang diwakili oleh Abu Bakar sendiri. Abu bakar, sang menantu Nabi, tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi khalifah pertama.
Baca juga : Pelajaran Politik Dari Ratu Balqis
Kesemuanya ini menunjukkan sikap terbuka dan demokrsinya Nabi di dalam menjalankan fungsi kepemerintahan yang diembannya sejak awal. Nabi tidak pernah mengistimewakan salah seorang keluarganya untuk menjabat suatu jabatan structural atau fungsional. Bahkan ia sendiri tidak pernah memilah-milah sahabatnya. Termasuk penunjukan panglima angkatan perang, Nabi memilih Usama, bukannya memilih kerabat terdekatnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.