Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu dijelaskan ada langit dalam arti denotatif (haqiqiy) ada langit konotatif (majazy). Ada langit makrokosmos, ada langit mikrokosmos. Pertanyaannya ialah langit mana yang akan dituju Road-Map System (RMS) kita?
Dalam pandangan sufistik, sesungguhnya tidak ada dualitas, trinitas, atau the many (al-katsrah) di level atas. Makin ke atas sebuah pendakian, semakin mengerucut kepada Yang Maha Esa (The oness/al-wahdah).
Baca juga : Makna Denotatif Dan Konotatif Langit
Di sana tidak ada lagi makrokosmos dan mikrokosmos, tidak ada lagi pula dhahir dan batin. Hanya di level bumi (Terrestrialal-ardh) penampakan semu seolah-olah banyak. Akan tetapi di level langit (selestial/al-sama’) semuanya menjadi ESA (The One and Only/al-Ahadiyyah). Bagi orang yang sudah mencapai tingkat ‘arifin hanya tersenyum menyaksikan orang-orang yang berwacana mempertentangkan antara satu fenomena dengan fenomena lain.
Bagi mereka sudah sampai ke tingkat kesadaran (consciousness) bahwa sesunguuhnya yang banyak itu tidak lain adalah penampakan (appearance/tajally) dari Yang Maha Esa Itu (The One in the manyness and The Many in the Oneness/al-Wahdah fi al-katsrah wa al-katsrah fi al-wahdah). Dengan demikian amat simpel bahwa langit yang akan dituju tidak lain adalah langit puncak (The Heaven).
Baca juga : Menemukan Road-Map Langit
Kelihatannya sederhana tetapi menempuhnya ternyata amat sulit dan complicated. Ia memerlukan kecerdasan dan pengalaman tersendiri yang biasa disebut dalam dunia tarekat dengan perjuangan batin (mujahadah) dan spiritual exercises (riyadhah) secara rutin.
Bayangkan kalau umur kita sudah bau tanah, pensiun, tanda-tanda akhir kehidupan sudah bermunculan di tubuh, sementara kita belum tersadarkan untuk membangun RMS, serta mempersiapkan hidup dalam dunia keabadian di sana, sudah barang tentu neraka pertama kita adalah penyesalan itu sendiri.
Baca juga : Mengenal Norma Hukum “Al-Qur’an Takwini”
Seharusnya kita sudah menemukan RMS untuk mendaki langit mikrokosmos sebagai prasyarat untuk mendaki langit makrokosmos. Jangan sampai hidup ini kita gadaikan untuk kehidupan sesaat di dunia ini.
Seharinya akhirat menurut Al-Qur’an setara dengan 1.000 tahunnya dunia. Jadi, jika Tuhan menganugrahkan hidup sekitar 70 tahun, berarti kita hanya menjalani kehidupan 1,5 jam harinya akhirat. Di sana tidak ada kematian lagi. Apa yang ditanam hanya itu yang dapat dipanen. Tidak mungkin kita menanam bibit neraka memanen surga atau sebaliknya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.