Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Negara dan agama sama-sama memerebutkan loyalitas penuh dari masyarakat. Negara dan agama juga masing-masing memiliki bahasa sendiri di dalam meraih loyalitas masyarakat.
Pengalaman hidup bermasyarakat dalam NKRI, kedua bahasa ini saling memperkuat satu sama lain, sehingga keduanya bisa meraih loyalitas penuh tanpa menimbulkan gesekan konseptual di dalam masyarakat.
Meskipun pada awalnya memang pernah ada riak-riak di antara keduanya, tetapi berkat kematangan bernegara dan beragama, maka riak-riak itu hilang dengan sendirinya. Kita berharap jangan ada lagi yang “mengaduk” ketenangan ini, yang bisa menimbulkan riak, gelombang, bahkan tsunami politik.Konsekuensi negara luas, besar, dan pluralistik tentu saja ialah disintegrasi nasional.
Diharapkan, sendi-sendi NKRI yang sudah merupakan bentuk final konsep kenegaraan Indonesia dipertahankan sampai akhir sejarah kemanusiaan bangsa Indonesia.
Baca juga : Negara Dan Aliran Sesat
Banyak contoh menarik perkawinan antara bahasa negara dan bahasa agama melahirkan prestasi luar biasa. Misalnya, dalam tahun 1970-an, Presiden Soeharto tidak berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk, meskipun dibentuk badan setingkat Kementerian, dengan dukungan anggaran yang amat besar, yaitu BKKBN, karena hanya menggunakan bahasa negara.
Program ini banyak menimbulkan kontroversi di dalam masyarakat karena secara vulgar dinyatakan untuk mengurangi angka kelahiran, sementara faham keagamaan menganjurkan untuk memiliki sebanyak mungkin keturunan dan rezeki mereka sudah dijamin oleh Tuhan. Akibatnya, program mercusuar ini terancam gagal.
Sejumlah akademisi berusaha mendekati dan memberi nasehat kepada Cendana (istilah ’central power’ zaman Orde Baru) agar pendekatan program kependudukan yang tujuannya sedemikian baik itu, diubah.
Kalau semula menggunakan bahasa negara, maka disarankan agar juga menggunakan bahasa agama. Selain aparat negara yang terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga dilibatkan penyuluh yang menggunakan bahasa agama dari alumni Perguruan Tinggi Agama seperti alumni IAIN/STAIN.
Baca juga : Psikologi Mayoritas-Minoritas
Melalui kepiawaian Pak Harjono Soedjono yang menjadi Kepala BKKBN ketika itu, para ulama dan tokoh-tokoh agama lain diikutkan untuk terlibat di dalam program nasional ini.
Pada saat bersamaan, pemerintah membangun kantor-kantor perwakilan BKKBN yang tergolong megah di setiap kabupaten yang dipadukan dengan program Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) yang tersebar di seluruh kecamatan di seluruh Indonesia.
Akhirnya, program kependudukan di Indonesia berhasil baik dan meraih beberapa kali penghargaan internasional. Banyak negara yang datang studi banding ke Indonesia untuk belajar kesusksesan program BKKBN.
Rahasia kesuksesan KB dan sejumlah program populis di Indonesia sangat sederhana, yaitu menggunakan bahasa negara yang paralel dengan bahasa agama. Bahasa negara diperlukan untuk memberikan dukungan otoritas formal sebuah program, dan bahasa agama diperlukan untuk memberikan dukungan spirit program tersebut.
Baca juga : Antara Politik Islam Dan Islam Politik
Program yang menggunakan bahasa agama diyakini bukan hanya untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional, tetapi juga dipandang sebagai ibadah.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Kamis, 21 November 2024 dengan judul "Beragama Dalam Keberagaman (18), Antara Bahasa Negara Dan Bahasa Agama"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.