Dark/Light Mode
Beragama Dalam Keberagaman (12)
Mengindonesiakan Umat Beragama
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Sejak awal berdirinya NKRI, semua agama dan kepercayaan bebas hidup di dalamnya. Keduanya saling mengokohkan satu sama lain. Agama memberikan penguatan terhadap negara dan negara memberikan penguatan terhadap agama.
Agama dan NKRI bagaikan satu mata uang yang memiliki sisi yang berbeda. Jika di kemudian hari terdapat pertentangan antara keduanya, maka itu perlu segera diatasi.
Baca juga : Ketika Agama Tidak Lagi Mencerahkan
Akhir-akhir ini, isu agama seringkali tampil berhadap-hadapan dengan tatanan negara. Gerakan puritanisme atau pemurnian agama tampaknya melahirkan benturan-benturan baru antara tatanan kenegaraan dan apa yang diklaim sebagian orang sebagai ajaran Islam.
Lahirnya gerakan salafiah jihadi yang berusaha membersihkan khurafat dan bid’ah di dalam masyarakat seringkali berhadapan dengan tradisi keagamaan yang sudah mapan dan mendapatkan legitimasi negara. Misalnya, hadirnya kelompok anti Perayaan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, peringatan tanggal 1 Muharram, dan lain-lain dianggap sebagai kegiatan bid’ah yang tidak berdasar.
Baca juga : Agama Sebagai Faktor Sentripetal Dan Sentrifugal (2)
Padahal acara-acara tersebut sudah menjadi tradisi keagamaan rutin dan di antaranya sudah dilembagakan dalam acara negara, seperti Peringatan Maulid Nabi, Peringatan Isra’ Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an setiap tahun diacarakan sebagai acara kenegaraan. Jika itu dibid’ahkan, apalagi diharamkan, maka bukan saja menimbulkan masalah internal umat Islam, tetapi juga berdampak pada acara kenegaraan.
Apa yang sudah dianggap positif dan sudah diterima baik di dalam masyarakat luas, apalagi sudah diakomodasi oleh negara sebagai acara kenegaraan yang diperingati secara nasional, sebaiknya tidak perlu diusik lagi.
Baca juga : Agama Sebagai Faktor Sentripetal Dan Sentrifugal (1)
Pemurnian ajaran tidak mesti harus mengorbankan kearifan dan kreativitas lokal sepanjang hal itu tidak terang-terangan bertentangan dengan ajaran dasar agama. Apa yang ditawarkan sebagai standar ajaran pemurnian sesungguhnya belum tentu murni.
Apalagi kalau yang dijadikan standard ajaran untuk menilai lebih kental ajaran budaya Timur Tengahnya ketimbang ajaran Islamnya. Contohnya adanya gerakan atau seruan penggunaan cadar atau niqab, yaitu pakaian perempuan yang menutupi seluruh anggota badan kecuali kedua bola mata, penggunaan celana di atas tumit, dan kemestian memelihara jenggot, dan atribut fisik keagamaan lainnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.