Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Tahun 2024 ditutup dengan gejolak pasar yang tidak menentu. Sedangkan tahun 2025, keadaan ekonomi dunia diharapkan mulai membaik. Namun situasinya justru sebaliknya tidak dapat diprediksi. Pertumbuhan berkelanjutan yang didorong teknologi AI, ternyata belum mampu meredam ketidakpastian global. Hanya dengan rendah hati dan waspada kita dapat melewati tantangan ekonomi yang semakin komplek.
“Kalau di sini sedang heboh finalis koruptor dunia, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar memilih diam tidak tertarik ikut nimbrung urusan penobatan nominasi koruptor oleh lembaga asing. Semar sedang galau dengan makin maraknya kejahatan dan gelombang PHK beberapa pekan terakhir ini.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan kopi tubruk tanpa gula. Tidak ketinggalan penganan pisang rebus dan jadah bakar sebagai menu favorit sarapan pagi. Dewi Kanestren tahu betul makanan kesukaan Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Rajamala dinobatkan sebagai pemimpin yang merusak tatanan kerajaan Wirata.
Baca juga : SIM Keliling Jakarta 7 Agustus, Cek Di Sini Lokasinya
Kocap kacarito, Kerajaan Wirata mengalami pagebluk dan krisis berkepanjangan. Keadaan paceklik larang pangan dan sandang. Konon Wirata dikenal sebagai kerajaan gemah ripah loh jinawe. Namun belakangan berubah total. Hal ini disebabkan perilaku para elite pangreh praja yang tidak peduli lagi kepada kawula dan rakyatnya.
Keadaan ekonomi Wirata morat-marit dimanfaatkan oleh kelompok oposisi yang tidak sejalan dengan kepemimpinan Prabu Matswapati. Apalagi Matswapati terang-terangan mengangkat anak-anaknya untuk mengisi jabatan strategis di Wirata. Perilaku nepotisme Matswapati menyulut kemarahan lawan-lawan poltiknya.
Rupa Kenca dan Kenca Rupa merupakan dua tokoh yang berseberangan dengan Prabu Matswapati. Keduanya berniat untuk merebut tahta kerajaan Wirata. Walau mereka sebetulnya masih saudara sepupu dengan raja Wirata tersebut.
Baca juga : Kritik Pedas Karna Terhadap Salya
Untuk memuluskan strateginya, Rupa Kenca dan Kenca Rupa berkolaborasi dengan sauadara angkatnya yakni Rajamala. Rajamala berarti rajanya malapetaka dan penyakit. Rajamala berwujud manusia separo raksasa. Rupakenca memberi tugas Rajamala untuk menebar rasa takut dan memecah belah rakyat Wirata.
Keadaan mencekam melanda seluruh wilayah Wirata. Sehingga Rupa Kenca dengan mudah menyerang Prabu Matswapati. Untuk memuluskan niat jahatnya tersebut, Rupa Kenca menantang adu jago dengan Raja Wirata. Sebagai taruhan adu jago adalah tahta kerajaan.
Rajamala merupakan jago dari pihak oposisi. Sedangkan jago dari Wirata adalah Jagal Bilawa. Bilawa adalah nama samaran Bima saat under cover di Wirata. Kedua jago bertarung di alun-alun kerajaan disaksikan kawula Wirata.
Baca juga : Pilihan Wakil Ratu Sasrabahu
Bilawa sempat kedodoran melawan Rajamala. Karena setiap Rajamala jatuh tersungkur, bisa bangkit kembali. Keadaan ini terus berulang sampai Bilawa kewalahan. Melihat keadaan ini, Arjuna datang membantu Bilawa. Rajamala dapat bangkit kembali karena disiram air sakti dari sumur keramat. Sumur dimasukin keris Pulanggeni. Akhirnya Rajamala tewas oleh Jagal Bilawa.
“Rajamala tewas mengenaskan, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Jagat itu adil. Orang yang berbuat jahat dikalahkan oleh keadilan dan kebaikan. Tinggal menunggu waktu yang akan membuktikan,” jawab Romo Semar pendek sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.