Dark/Light Mode
- Sabtu Berkah Bareng Ojol, Kapolda Metro Jaya Ajak Pengemudi Utamakan Keselamatan
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Tahapan pesta demokrasi tinggal tujuh bulan lagi. Namun bakal calon presiden belum memutuskan siapa yang menjadi wakilnya. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia, agenda demokrasi lima tahunan Indonesia menjadi sorotan internasional. Dari ketiga bakal calon, elektabilitasnya masih di bawah lima puluh persen. Sehingga diperlukan wakil untuk mengerek popularitas pasangan yang mau berlaga pada bulan Februari mendatang.
“Peran wakil presiden bukan seperti ban serep lagi, Mo,” sela Petruk sambil cengengesan. Romo Semar hanya mesem tidak mau komentar terlalu banyak tentang bakal capres dan cawapres. Romo Semar sedang prihatin dengan masih banyaknya antrean gas melon di berbagai daerah. Padahal kebutuhan gas murah untuk rakyat merupakan keniscayaan. Selain harganya relatif murah dan terjangkau, bahan bakar gas lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.
Baca juga : Memahami Tiwikrama Politik
Seperti biasa, Romo Semar ditemani Singkong rebus dan kopi pahit untuk sarapan paginya. Sarapan sambil ngobrol bertukar pikiran merupakan kegiatan wajib di Padepokan Klampis Ireng. Selain dapat mempererat persaudaraan dengan masyarakat sekitar, keluhan wong cilik merupakan masukan yang jujur.
Romo Semar membiarkan kepulan asap rokok klobot menari-nari di depan matanya. Sehingga membawa ingatan Semar ke zaman Ramayana. Bagaimana strategi Prabu Harjuna Sasrabahu mencari wakil untuk memimpin kerajaan Maespati.
Baca juga : Kemenparekraf Gelar Sinema Keliling Di Jambi
Kocap kacarito, Prabu Harjuna Sasrabahu kesulitan mancari sosok yang akan dijadikan wakil atau patih di kerajaan Maespati. Sebagai raja titising Dewa Wisnu yang memiliki kesaktian “ngerti sak durunge winarah” atau dapat membaca tanda-tanda zaman. Seharusnya tidak sulit mencari patih yang sebanding kesaktiannya.
Prabu Harjuna mendengar kabar sayembara boyong putri di kerajaan Magada. Dewi Citrawati putri sekar kedaton selain cantik adalah titising Dewi Sri. Harjuna ingin melamar Dewi Citrawati untuk dijadikan istri permaisuri. Untuk tujuan tersebut, dia menawarkan kepada siapa yang dapat memboyong Dewi Citrawati akan dijadikan patih kerajaan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.