BREAKING NEWS
 

Stasiun Whoosh Karawang Butuh Akses Angkutan Yang Terintegrasi

Selasa, 21 Januari 2025 09:13 WIB
Djoko Setijowarno
Pengamat Transportasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Peresmian Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) pada 2 Oktober 2023 oleh Presiden Joko Widodo di Stasiun Halim, Jakarta, menandai babak baru peradaban transportasi di Indonesia. Kereta cepat dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam ini diberi nama WHOOSH, akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Selain menjadi yang pertama di Indonesia, WHOOSH juga menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Pada 24 Desember 2024, Stasiun Whoosh Karawang resmi beroperasi, dengan waktu tempuh Stasiun Halim–Stasiun Karawang hanya 15 menit. Kehadiran stasiun ini diharapkan mendukung optimalisasi layanan kereta cepat sekaligus meningkatkan konektivitas kawasan.

Stasiun Whoosh Karawang memiliki lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan beberapa kawasan pengembangan besar, seperti Kawasan Deltamas, Trans Heksa Karawang (THK), Kawasan Industri KIIC, dan pusat komersial lainnya di Kota Karawang. Beberapa destinasi utama di sekitar stasiun meliputi Stadion Wibawa Bakti, AEON Mall Deltamas, The Grand Outlet, dan Kawasan Wisata Alam Kaliwungu.

Jalan kases eksisting menuju Stasiun Karawang Grand Taruma/Resinda Park via Jalan Badami. Akses ini terdapat longsoran pada sisi kanan jalan di Jalan Pangkalan menuju Stasiun Karawang dan saat ini hanya satu jalur yang dapat dilalui oleh kendaraan. Selain itu ada juga alternatf dari Resinda Park via Jalan Kawasan Trans Heksa Karawang (THK). Ada kendala portal yang menghambat kendaraan besar seperti bus dan mobil Elf untuk melewati jalan ini.

Baca juga : Prabowo Resmikan PLTA Jatigede, Bukti Kekuatan Bangsa Indonesia

Lokasi Stasiun Karawang sangat strategis lantaran berbatasan langsung dengan beberapa kawasan pengembangan besar, seperti Kawasan Deltamas, THK, Kawasan KIIC, Komersial Resinda, dan pusat komersial lainnya di Kota Karawang. Target pasar pengoperasian Stasiun Karawang adalah masyarakat yang membutuhkan perjalanan komuter dan dari ke Kota Karawang, terutama untuk perjalanan bisnis, wisata dan keluarga. Berdasarkan kajian yang dilakukan Polar UI, penumpang lebih memilih untuk melakukan perjalanan pada pagi dan sore hari dibadingkan siang hari. Target penambahan penumpang dengan pengoperasian Stasiun Karawang 3.000 – 5.000 per numpang per hari (dalam kondsi belum optimal).

Secara keseluruhan target penumpang harian dari Stasiun Karawang diproyeksi mencapai 14 ribu orang, dengan potensi peningkatan hingga 32 ribu penumpang per hari apabila aksesibilitas dan integrasi antar moda dioptimalkan.

Namun, salah satu kendala utama adalah keterbatasan layanan angkutan umum menuju dan dari stasiun. Saat ini, pengguna hanya dapat mengandalkan ojek daring, taksi daring, serta dua armada shuttle gratis dari pengembang kawasan. 

Adsense

Tarif menuju pusat Kota Karawang menggunakan ojek daring mencapai Rp 40 ribu, sedangkan taksi daring berkisar Rp 100 ribu. Kondisi ini dinilai tidak memadai untuk menarik lebih banyak pengguna.

Baca juga : 10 Hari Beroperasi, Stasiun Whoosh Karawang Sudah Layani 5.500 Penumpang

Pemerintah Kabupaten Karawang perlu segera menyediakan angkutan umum yang terjangkau dan terintegrasi untuk menghubungkan stasiun dengan perumahan, kawasan industri, pusat kota, dan lokasi wisata. Penambahan layanan angkutan umum ini tidak hanya mendukung operasional Kereta Whoosh, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk pengurangan angka kemiskinan, stunting, dan anak putus sekolah.

Sebagai contoh, pengalaman di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa ketiadaan angkutan umum di beberapa daerah mengakibatkan anak-anak putus sekolah dan meningkatnya angka pernikahan dini, yang berdampak pada stunting. Angkutan umum yang dikelola dengan baik dapat menghindari dampak sosial-ekonomi tersebut.

Pemkab Karawang dapat memanfaatkan APBD tahun 2024 sebesar Rp 5,86 triliun untuk meningkatkan layanan angkutan umum. Sumber pendanaan juga dapat diperoleh melalui kerja sama dengan perusahaan swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Pengelolaan operator angkutan umum dapat dilakukan secara konsorsium atau melalui koperasi untuk mempermudah pemberian subsidi operasional dari APBD.

Selain itu, pemerintah perlu memperbaiki dan memperluas infrastruktur jalan menuju Stasiun Karawang. Jalan Pangkalan, misalnya, perlu dilebarkan menjadi dua jalur dengan empat lajur. Pembangunan akses jalan tembus menuju kawasan industri dan pengembangan gerbang tol di KM 42 Jalan Tol Jakarta–Cikampek juga harus menjadi prioritas.

Baca juga : Menhub: Stasiun Whoosh Karawang Berpotensi Gerakkan Ekonomi Daerah

Karawang dapat belajar dari pengalaman daerah seperti Depok (Trans Depok), Bekasi (Trans Patriot), dan Bogor (Trans Pakuan), yang telah menyediakan akses angkutan umum ke stasiun KRL Jabodetabek. Dengan komitmen politik yang kuat, keberadaan angkutan umum di Karawang tidak hanya akan meningkatkan mobilitas warga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Penyediaan layanan angkutan umum di sekitar Stasiun Whoosh Karawang adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi oleh Pemkab Karawang. Pemerintah tidak boleh abai terhadap amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa penyediaan transportasi umum adalah kewajiban, bukan beban. Dengan integrasi moda transportasi yang baik, keberadaan Stasiun Whoosh Karawang akan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan ekonomi daerah.

Oleh: Djoko SetijowarnoAkademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense