BREAKING NEWS
 

Pertemuan Prabowo Dan Megawati:Fondasi Persatuan Bangsa Di Tengah Geopolitik Global

Kamis, 17 April 2025 07:31 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan antara ­Presiden terpilih Prabowo Subianto ­dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr (HC). Hj. Megawati Soekarnoputri, pada 7 April 2025, bukan sekadar pertemuan politik biasa, melainkan menjadi simbol penting dalam perjalanan bangsa Indonesia untuk memperkuat komitmen terhadap persatuan nasional dan ideologi Pancasila. 

Silaturahmi yang berlangsung di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, ini mengandung makna simbolik yang dalam di tengah kontestasi politik pasca-­Pemilu 2024. ­Momentum tersebut memperlihatkan bagaimana dua tokoh besar nasional, yang masing-­masing mewakili kekuatan politik historis dan kontemporer, mampu mengedepankan kepen­tingan bangsa di atas dinamika elektoral –serta menyatakan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan strategis ­nasional dan global. 

Sejarah hubungan politik ­antara Prabowo dan Megawati, memang, diwarnai oleh di­namika pasang surut. Ke­duanya pernah berada dalam satu barisan politik pada Pilpres 2009, namun perbedaan strategi dan kepentingan membawa mereka pada jalur yang berbeda dalam ­beberapa tahun terakhir. Meskipun demikian, pertemuan yang telah lama direncanakan ini menandakan bahwa politik ­Indonesia memiliki tradisi rekonsiliasi yang kuat—rekonsiliasi yang tidak dibangun dari kompromi sempit kekuasaan, tetapi berdasarkan pada ­nilai-nilai kebangsaan yang lebih luas. 

Dr. (HC). Puan Maharani se­bagai Ketua DPR RI menya­takan bahwa pertemuan tersebut bukan yang terakhir, dan ke depan akan ada silaturahmi lanjutan. ­Dengan begitu ini meng­indikasikan terbukanya saluran komunikasi yang produktif antara dua poros kekuatan besar dalam politik nasional. Lebih dari sekadar silaturahmi Idul Fitri, pertemuan tersebut merefleksikan per­samaan visi antara Prabowo dan Megawati terkait arah pembangunan bangsa ke depan. 

Baca juga : Diplomasi Bermartabat Jalan Tengah Kemanusiaan

Kedua tokoh bangsa ini menekankan pentingnya kolabo­rasi dan sinergi dalam membangun Indonesia yang lebih kuat. Pernyataan Megawati yang mendukung pemerintahan Kabinet Merah Putih meskipun PDIP tetap berada di luar peme­rintahan, adalah bentuk sikap kenegarawanan yang matang. Sikap ini juga mencerminkan model “constructive opposition” yang sangat dibutuhkan dalam demokrasi Indonesia, yakni oposisi yang kritis namun tetap ­menjunjung tinggi prinsip-­prinsip kebangsaan dan Pancasila. 

Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa baik Prabowo maupun ­Megawati, ­sama-sama menempatkan Panca­sila sebagai dasar pijakan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Pancasila bukan hanya menjadi simbol ideologis, melainkan kerangka kerja stra­tegis dalam men­jawab persoalan kebangsaan dan ­geopolitik. 

Komitmen terhadap persatuan, keadilan sosial, dan kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi nilai-nilai utama yang sangat mungkin diusung dalam dialog empat mata tersebut. Di tengah polarisasi global akibat rivalitas Amerika Serikat dan China, konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Laut China Selatan, maka Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga posisi strategis secara otonom, mandiri, dan berbasis pada diplomasi damai. 

Adsense

Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih memahami betul, bahwa kekuatan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh kapabilitas militer atau ekonomi, tetapi juga oleh ketahanan ideologis dan kesatuan nasional. Maka dari itu, membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh sentral seperti Prof. Dr (HC). Hj. Megawati Soekarnoputri bukan semata demi legitimasi politik, tetapi juga demi membangun basis moral dan ideologis yang kuat untuk menopang pemerintahan ke depan. 

Baca juga : Perang Posmodern Dan Peluang Indonesia Di Era Geopolitik Trump

Sementara itu, Prof. Dr (HC). Hj. Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 RI dan pewaris langsung warisan pemikiran Bung Karno, memiliki peran sentral dalam menjaga narasi ideologi bangsa agar tidak tergerus oleh pragmatisme politik sesaat. Pertemuan ­antara keduanya menjadi jembatan ­antara generasi lama dan baru dalam kepemimpinan nasional, yang berorientasi pada kesinam­bungan nilai dan kepentingan nasional jangka panjang.

Sementara itu dalam kerangka geopolitik, Indonesia berada dalam posisi yang khas sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, dengan komitmen nonblok yang kuat. Dalam menghadapi tekanan global dan regional, Indonesia harus mampu memainkan peran sebagai stabilisator kawasan, serta menjadi suara moral bagi perdamaian dan keadilan internasional. Kolaborasi Prabowo dan Megawati, dalam menjaga komunikasi strategis ini, memberi sinyal positif bahwa Indonesia tidak akan terpecah oleh konflik internal –tetapi justru bersatu ­untuk tampil sebagai aktor ­pen­ting dalam percaturan global.

Penting juga untuk dicatat bahwa meskipun PDIP memilih untuk berada di luar pemerintahan secara struktural, namun dukungan terhadap agenda-agenda strategis nasional tetap diberikan. Sikap ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia semakin matang, di mana oposisi tidak serta-merta menjadi ­antagonis, tetapi dapat berfungsi sebagai mitra kritis yang turut menjaga jalannya pemerintahan secara seimbang. 

Dengan latar belakang tersebut, pertemuan Presiden RI ke 8 dan Presiden RI ke 5 ini harus dilihat sebagai investasi politik jangka panjang yang berorientasi pada stabilitas ­nasional. Peristiwa ini bukan hanya membangun rasa percaya antara dua ke­kuatan politik, tetapi juga memberikan harapan kepada rakyat bahwa elite politik Indonesia mampu meredakan ketegangan –dan menciptakan ruang dialog, ­bahkan setelah kompetisi politik yang keras. 

Baca juga : Asta Cita Dan Semangat Kebangsaan Pasca-Lebaran:Membangun Pemerintahan Bersih

Begitulah wajah demokrasi Indonesia yang resilien dan inklusif—sebuah demokrasi yang tidak terjebak pada kalkulasi kekuasaan, tetapi justru mengedepankan nilai-nilai luhur kebangsaan. Maka dalam menghadapi abad ke-21 yang penuh ketidakpastian, Indonesia semakin memperteguhkan soliditas nasional yang tidak dibangun di atas fondasi rapuh, tetapi atas dasar nilai-nilai Pancasila dan prinsip persatuan. 

Pertemuan antara Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr (HC). Hj. Megawati Soekarnoputri menjadi cermin bahwa bangsa ini masih memiliki harapan untuk tetap bersatu, bahkan dalam perbedaan. Komitmen keduanya untuk menjaga komunikasi dan koordinasi demi kepentingan strategis nasional menunjukkan, bahwa semangat gotong royong sebagai inti dari Pancasila masih hidup dalam praktik politik kontemporer. 

Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur Lemhannas RI (2001-2005) dan ­Direktur Jenderal Sosial Politik ­Depdagri RI ­(1998-2000). Kini menjabat Ketua ­Dewan Pembina Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense