BREAKING NEWS
 

5 Hal Tentang Peningkatan Kasus COVID-19 Di Negara Tetangga

Selasa, 20 Mei 2025 16:27 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertama, tercatatnya peningkatan di beberapa negara tetangga kita tentu terjadi karena mereka melakukan surveilan kasus serta pencatatan dan pelaporan dengan sistematis dan sangat baik.

Bukan hanya ketika pandemi berkecamuk tetapi juga pada keadaan "biasa". Surveilan memang merupakan "tulang punggung" pengendalian penyakit menular, termasuk COVID-19.

Kedua, COVID-19 memang masih ada di tengah kita. Kasusnya masih ada di berbagai negara, termasuk negara kita juga. Jadi karena ada kasus maka tentu saja ada kemungkinan variasi peningkatan kasus dari waktu ke waktu. Yang penting variasi epidemiologik ini dipantau ketat, bukan hanya perubahan jumlah kasus dan kematian tetapi juga pola genomiknya.

Baca juga : KPK Geledah Kemenaker, Terkait Penyidikan Kasus Dugaan Suap TKA

Ketiga, sejauh ini maka kasus-kasus yang ada di negara tetangga belum disebabkan oleh varian baru. Varian lama masih mendominasi, a.l. JN.1 dengan turunannya seperti LF.7 dan NB.1.8.

Keempat, tentang vaksinasi maka memang anjuran umum adalah untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19 setahun sesudah vaksinasi terdahulu.

Adsense

Waktu saya di New York untuk menikahkan putri saya minggu yang lalu maka di berbagai Toko Farmasi CVS besar di New York selalu ada pojok untuk vaksinasi, termasuk juga COVID-19, walaupun tidak ada peningkatan kasus di Amerika sekarang ini.

Baca juga : Kapolri Dan Mentan Dukung Program Ketahanan Pangan

Kelima, yang harus dilakukan pemerintah kita ada tiga hal. Kesatu, harus terus meningkatkan survailan epidemiologik dan genomik.

Kedua, memantau ketat pola perubahan epidemiologik negara tetangga dan juga negara-negara lain di dunia, a.l dengan kerjasama ASEAN dan juga dengan WHO. Ketiga, pada saat ini tentu tidak diperlukan pembatasan kedatangan warga dari negara tetangga, dan belum perlu juga pembatasan kunjungan warga kita ke negara tetangga, walaupun tentu tetap perlu waspada.

Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI

Baca juga : Kapolri-Mentan Panen Raya Jagung Di Bone, Dukung Program Ketahanan Pangan

Adjunct Professor Griffith University Australia

Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018-2020

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense