Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Berita Rakyat Merdeka/RM.id tanggal 20 Mei 2025 berjudul “Covid-19 Kembali Merebak di Luar Negeri, Masyarakat Diminta Waspada” jelas perlu menjadi perhatian kita. Apalagi datanya terus berkembang. Setelah pada akhir Mei dilaporkan peningkatan kasus Covid-19 di Singapura, Thailand, Hong Kong dan Malaysia, kini pada awal Juni 2025 berbagai media memberitakan kenaikan lebih lanjut kasus Covid-19 di Thailand.
Menurut media The Nation, kasus Covid-19 di Thailand kini mencapai puncak tertinggi tahun ini dengan 65.880 kasus baru dan tiga kematian hanya dalam kurun waktu sepekan, yakni 25–31 Mei 2025.
Data sebelumnya dari Departemen Pengendalian Penyakit Thailand mencatat 33.030 kasus terjadi pada 11–17 Mei, naik dua kali lipat dari minggu sebelumnya yang mencatat 16.000 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.918 pasien dirawat di rumah sakit, sementara dua orang dilaporkan meninggal di Sukhothai dan Kanchanaburi. Data lain menunjukkan Thailand juga mencatat lebih dari 16.600 kasus baru dan enam kematian dalam periode 4–10 Mei 2025.
Baca juga : Pendidikan Kedokteran Daerah Rural/Pedesaan
Pemerintah Malaysia mencatat rata-rata 600 kasus Covid-19 per minggu. Sementara itu, Singapura mengalami peningkatan signifikan, dari 11.100 kasus menjadi 14.200 kasus mingguan pada periode 27 April hingga 3 Mei 2025. Dalam periode yang sama, jumlah pasien rawat inap juga meningkat, dari 102 menjadi 133 orang.
Ada berbagai varian yang menyebabkan peningkatan kasus di beberapa negara tetangga. Surat Edaran Dirjen P2 Nomor SR.03.01/C/1422/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Peningkatan Kasus Covid-19 menjelaskan bahwa varian dominan yang menyebar di Thailand adalah XEC dan JN.1; di Singapura LF.7 dan NB.1.8 (turunan JN.1); di Hong Kong JN.1; dan di Malaysia XEC (turunan JN.1). Disebutkan juga bahwa tingkat transmisi masih relatif rendah, demikian pula angka kematiannya.
Seiring perkembangan kasus di negara-negara tetangga Asia Tenggara, ASEAN pernah memperkenalkan inisiatif ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases) sebagai upaya memperkuat kolaborasi regional dalam deteksi dan respons terhadap darurat penyakit.
Baca juga : WHO Dan Pendidikan Kedokteran
ACPHEED terdiri dari tiga pusat yang tersebar di tiga negara, yaitu Vietnam (pencegahan dan kesiapsiagaan), Indonesia (deteksi dan penilaian risiko), dan Thailand (respons). Inisiatif ini diluncurkan pada ASEAN Health Ministers Meeting (AHMM) ke-15 di Bali pada Mei 2022.
ACPHEED memiliki visi menjadi pusat keunggulan dan sumber daya kawasan, yang sejalan dengan kebutuhan ASEAN dalam meningkatkan kemampuan mendeteksi dan merespons keadaan darurat kesehatan dan penyakit baru yang berpotensi menjadi pandemi. Akan sangat baik jika peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara ASEAN saat ini menjadi salah satu tantangan konkret yang ditangani ACPHEED.
Sebenarnya, pembicaraan tentang Covid-19 tidak hanya terjadi di Asia. Kebetulan saya sedang berada di Brisbane, Australia, ketika pada 22 Mei 2025 dilaporkan adanya lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah rumah jompo. Berita itu dimuat dengan judul “Covid-19 Outbreaks in Australian Residential Aged Care Homes.”
Baca juga : Penelitian Vaksin TB Baru, Presiden Prabowo & Bill Gates
Sebagai Adjunct Professor di Griffith University, saya mencermati data yang menunjukkan varian NB.1.8.1 menyumbang kurang dari 10 persen kasus di Australia Selatan. Namun, mencapai lebih dari 40 persen kasus di Negara Bagian Victoria. Media The Guardian Australia, pada 30 Mei 2025, juga memberitakan varian NB.1.8.1 dan menyebutkan bahwa Australia perlu mengantisipasinya, mengingat negara itu akan memasuki musim dingin. Saat saya berada di Brisbane pada 30 Mei, suhu sudah di bawah 15°C, cukup dingin bagi kita, dan diperkirakan akan makin dingin dalam beberapa hari ke depan.
Untuk kita sebagai anggota masyarakat, ada tiga hal penting yang perlu dilakukan. Pertama dan utama, tetap dan selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Kedua, menyadari bahwa Covid-19 memang masih ada di sekitar kita. Kasusnya masih terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Artinya, kemungkinan fluktuasi kasus tetap ada dari waktu ke waktu. Ketiga, terus memantau perkembangan kasus dari media resmi yang terpercaya, sambil berharap kasus tidak kembali merebak luas.
Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Guru Besar Fakultas Kedokteran UI
- Adjunct Professor, Griffith University – Australia
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara (2018–2020)
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.