Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Sepanjang bulan Mei, jemaah haji kita akan berangkat ke Arab Saudi. Dalam mempersiapkan keberangkatan, biasanya jemaah haji bertanya, obat apa yang perlu dibawa.
Untuk ini, ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan, baik jenis obatnya dan bagaimana memilihnya, prosedur membawanya, serta bagaimana secara umum pengobatan penyakit.
Mulai perjalanan dari asrama embarkasi, di pesawat terbang, selama jemaah haji berada di Arab Saudi, hingga kepulangan di tempat debarkasi.
Setidaknya pada dasarnya ada tiga jenis obat yang dapat dipertimbangkan. Pertama adalah obat yang memang sudah biasa dikonsumsi sehari-hari untuk penyakit yang memang sudah dialami di Tanah Air.
Contohnya, pengobatan untuk penyakit gula atau Diabetes Mellitus atau untuk hipertensi, asma atau osteoartritis dan lain-lain.
Sebagian dari penyakit-penyakit ini memang obatnya biasanya dikonsumsi setiap hari, tapi ada juga yang secara berkala, tapi tidak tiap hari.
Ada juga yang harus dikonsumsi atau barangkali disesuaikan dosisnya, pada keadaan tertentu, misalnya ketika serangan penyakitnya memberat.
Sebaiknya sebelum berangkat, jemaah haji berkonsultasi pada dokter atau klinik/rumah sakit yang biasa menanganinya.
Baca juga : Vaksinasi Jemaah Haji Kita
Diskusikan secara mendalam obat rutin mana yang harus dibawa dan bagaimana penggunaannya selama menjalankan ibadah haji.
Akan lebih baik jika dokter yang biasa menangani, membuat semacam surat keterangan yang ditujukan ke dokter kelompok terbang (kloter) tentang riwayat sakit dan obat apa yang perlu dikonsumsi jemaah itu.
Jadi, dokter kloter dapat memonitor pengobatan jemaah dalam kelompoknya secara lebih baik.
Selain itu, bukan tidak mungkin jemaah harus melaporkan ke dokter kloter kalau jumlah obat yang dibawanya cukup banyak jumlahnya, sehingga mempermudah jika ada pemeriksaan tertentu di bandara Arab Saudi.
Jenis obat kedua adalah obat-obat umum atau obat simtomatis, seperti obat flu, obat diare, obat sakit kepala dan lain-lain.
Jemaah bisa membawa obat yang memang selama ini dipakai di dalam keluarga kalau ada keluhan serupa, dan dapat berkonsultasi pada dokternya sebelum berangkat.
Sementara jenis obat ketiga yang juga banyak ditanyakan adalah vitamin. Sebenarnya tidak ada rekomendasi khusus tentang merek vitamin tertentu.
Pada umumnya berbagai jenis multivitamin tentu dapat saja dibawa, kalau dianggap perlu.
Baca juga : Delapan Aspek Proposal Akhir “Pandemic Agreement”
Satu hal yang perlu diketahui jemaah haji kita adalah bahwa Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) menyediakan berbagai obat-obatan yang lengkap untuk melayani jemaah haji.
Obat-obat itu ada yang dipegang oleh tim kesehatan di tiap-tiap kelompok terbang. Pengalaman pribadi saya, jemaah bisa saja ada keluhan sakit dan membutuhkan obat sejak dalam penerbangan berangkat ke Arab Saudi dan karena itu obat memang sudah tersedia.
Bahkan, mungkin saja jemaah memerlukan obat di asrama haji sebelum berangkat, tersedia klinik dan obat yang memadai.
Lalu, ketika sudah mendarat Bandara Jeddah dan Madinah, juga ada klinik kesehatan kita dengan obat-obatannya.
Lalu, selama jemaah berada di Madinah atau Mekkah, di setiap hotel ada tim kesehatan kloter yang selalu bersama jemaah. Mereka dilengkapi dengan obat memadai.
Selain membawa obat dari Tanah Air, tim kesehatan di masing-masing kloter juga dapat meminta obat dari fasilitas rujukan dan distribusi obat di Sektor, serta juga dari Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang ada di Mekkah dan Madinah.
Klinik Kesehatan Haji Indonesia merupakan fasilitas kesehatan yang lengkap.
Ada berbagai jenis dokter spesialis, peralatannya pun cukup memadai dan tentu saja obat-obatnya cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan sesuai penyakit para jemaah kita.
Baca juga : TB di Tempat Kerja dan Penanganannya
Kalau keadaan penyakit cukup berat, jemaah haji kita bisa dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi.
Di sana peralatannya benar-benar lengkap dan semua jenis obat tersedia secara gratis untuk semua jemaah haji, termasuk jemaah kita.
Selain itu, jemaah haji juga dapat membeli obat-obat bebas di “pharmacy” atau apotek yang banyak sekali tersedia di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Penjelasan di atas mempertegas bahwa sebenarnya berbagai obat yang beragam sudah disediakan untuk jemaah haji kita. Jadi tidak perlu khawatir, walau tentu baik juga kalau membawa bekal obat sendiri. Semoga jemaah haji kita senantiasa terjaga baik kesehatannya dan dapat menjalankan ibadah dengan khusuk, Insya Allah Mabrur.
Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor Griffith University – Australia
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Petugas Kesehatan Haji Indonesia tahun 1990, 1991 dan 2013
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.