Dark/Light Mode

WHO Dan Pendidikan Kedokteran

Senin, 19 Mei 2025 07:52 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika saya sedang ­berada di New York pada 16 Mei 2025, Rakyat Merdeka/RM.id menurunkan berita berjudul “Kebijakan Kesehatan Dikritik Guru Besar FKUI, Ini Respons Kemenkes”. Menyikapi hal ini, ada baiknya kita meninjau bagaimana konsep pendidikan kedokteran di tingkat dunia. 

Laman World Health Organi­zation Eastern Mediterranean Region (WHO EMRO) menye­butkan bahwa pendidikan kedokteran adalah bentuk pendidikan yang berkaitan dengan kegiatan praktik untuk menjadi seorang dokter. 

Untuk meraih ijazah kedok­teran (medical degree), dibutuhkan masa pendidikan selama lima, delapan, bahkan sembilan tahun, tergantung pada aturan masing-masing negara dan universitas. 

Profesi dokter terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu dokter umum dan dokter spesialis. Pendidikan dokter ­juga dilengkapi dengan program magang (internship) seba­gai bagian dari kualifikasinya. 

Baca juga : Penelitian Vaksin TB Baru, Presiden Prabowo & Bill Gates

Sementara itu, laman kantor pusat WHO memuat arti­kel berjudul “Encouraging Medical Education to ­Bolster the Global Health Care Workforce”, yang menegaskan pentingnya pendidikan kedokteran secara global. Arti­kel ini berkaitan dengan ­resolusi World Health Assembly WHA67.24 yang diadopsi pada tahun 2014, dan melahirkan dokumen strategis berjudul Global Strategy on Human Resources for Health: Workforce 2030. 

Menariknya, saat ini, dari 19 sampai 27 Mei 2025, sedang ­berlangsung World Health ­Assembly (WHA) di Jenewa. Maka, sangat relevan jika kita kembali mengangkat buku tersebut sebagai bahan kajian global, sekaligus merefleksikan kondisi pendidikan kedokteran dan ke­sehatan di Indonesia. 

Dalam buku itu ditegaskan bahwa sistem kesehatan yang baik hanya dapat terwujud bila didukung oleh tenaga kesehatan yang memadai. Setiap negara diharapkan memiliki mekanisme akreditasi yang jelas terhadap institusi pelatihan tenaga kese­hatan. Negara juga perlu memperkuat kapasitas dan kualitas institusi pendidikan, termasuk fakultas kedokterannya, melalui sistem akreditasi dan sertifikasi yang kredibel. 

Masih dalam buku yang sama, disebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat sekitar 9,8 juta dokter, 20,7 juta perawat dan bidan, serta 13 juta tenaga ke­sehatan lainnya di seluruh dunia. Total jumlahnya mencapai 43 juta orang. Target global pada tahun 2030 adalah tersedianya 67,3 juta tenaga kesehatan yang mencakup 13,8 juta dokter, 32,3 juta perawat dan bidan, serta 21,2 juta petugas kesehatan lainnya. Mencapai target ambisius ini tentu membutuhkan kerja keras dari seluruh institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. 

Baca juga : Kesehatan Maritim

Secara global, kita juga menge­nal World Federation for Medical Education (WFME) yang didirikan pada tahun 1972 oleh World Medical Association (WMA), semacam “IDI” tingkat dunia. Sejak 1974, WFME telah bekerja sama erat dengan WHO dalam membangun strategi pendidikan kedokteran dan kese­hatan yang memberikan dampak nyata dan positif. 

Pada 25 hingga 28 Mei mendatang akan diselenggarakan WFME World Conference 2025. Tema konferensi kali ini sangat relevan dengan kebutuhan kita di dalam negeri, yaitu Health for All – Through Quality Medical Education (Kesehatan untuk Semua melalui Pendidikan Kedokteran yang Berkualitas). 

Dalam paparan konferensi, disebutkan bahwa pendidikan kedokteran yang dilengkapi ­dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan mutakhir akan mampu menghasilkan pelayanan pasien yang unggul, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat secara luas. 

Hal penting lainnya bahwa pendidikan kedokteran, baik saat ini maupun ke depan, harus selaras dengan setidaknya empat prinsip utama. Pertama adalah strategi global WHO tentang sumber daya manusia bidang kesehatan yang telah dibahas sebelumnya. 

Baca juga : Obat Yang Dibawa Jemaah Haji

Kedua adalah konsep Quintuple Aim for Health Care Improvement, yang merupakan pengembangan dari Triple Aim. Konsep ini berangkat dari tujuan untuk meningkatkan kesehatan populasi, meningkatkan mutu pelayanan, serta menurunkan beban biaya yang harus di­tanggung pasien atau masyarakat. 

Belakangan ditambahkan dua elemen penting lagi, ­yaitu pening­katan kesejahteraan ­tenaga kesehatan dan keadilan dalam akses layanan, sehingga lengkap menjadi Quintuple Aim

Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
- Adjunct Professor, Griffith University – Australia
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara (2018–2020)
- Dosen Fakultas Kedokteran sejak 1987
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.