Tausiah Politik
Sebelumnya
Peta budaya dan peradaban kemanusiaan dari zaman ke zaman memiliki nilai-nilai universal di samping nilai-nilai lokalnya. Islam sebagai ajaran yang sarat dengan nilai-nilai universal sudah barang tentu memiliki pola dialektik sejarahnya.
Dengan kata lain, satu sisi harus mempertahankan orisinalitas dan unsur-unsurnya yang genuine, tetapi pada sisi lain harus mampu menembus batas-batas geografis dengan separangkat nilai-nilai lokalnya.
Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 3)
Dalam kenyataan dialektika sejarah Islam, selain harus “menjinakkan” sasaran-sasarannya maka ia pun harus dijinakkan oleh sasaran-sasarannya.
Sebagai contoh, selain harus mengislamkan Mesir, Persia, anak benua India dan Nusantara, maka terlebih dahulu ia harus mengalami proses pemesiran, pemersian, pengindian, dan penusantaraan.
Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 2)
Sama seperti Islam dalam periode awal, Islam yang lahir dan tumbuh di jazirah Arab lalu berekspansi keluar kawasan sekitarnya, maka nilai-nilai Islam pun harus mengalami penyesuaian ke dalam dua konteks peradaban, apa yang disebut Marshall Hodgson dengan Irano-Semit di bagian Timur dan Afro-Erasia di bagian Barat.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 19 Juli 2025 dengan judul "Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (6) Antara Kontinuitas dan Orisinalitas"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.