Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Keterbukaan akademik ilmuwan Muslim di masa lampau berbanding lurus dengan kejujuran akademiknya. Al-Kindi, seorang filsuf Arab-Muslim di abad pertengahan mengatakan:
“Tidak ada yang lebih dicintai oleh para pencinta kebenaran daripada kebenaran itu sendiri, dari mana pun datangnya, dari siapa pun asalnya, dari bentuk apa pun adanya, bahkan dia bersedia mengabdi kepada kebenaran itu dengan mengerahkan segenap jiwa raganya”.
Sejalan dengan pernyataan Al-Kindi, Nabi Muhammad SAW sudah pernah mengingatkan: “Carilah ilmu pengetahuan itu walau sampai di tanah China”. Hadis lain: “Hikmah itu ada di mana-mana, ambillah karena itu milik umat Islam yang tercecer”.
Baca juga : Kejujuran Akademik
Al-Qur’an sendiri memerintahkan umat Islam melakukan perjalanan keilmuan untuk memperoleh kearifan guna menjalani hidup ini dengan benar, tenang, dan bahagia: “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS Ali ‘Imran/3:137).
Ayat ini menunjukkan betapa perlunya umat manusia bersifat terbuka menerima kebenaran, tanpa menutup diri dari sumber-sumber kebenaran lain yang bersumber dari diri seorang atau komunitas Muslim.
Keilmuan Islam bukan berdiri sendiri tanpa membuka diri dari orang-orang lain, termasuk ilmuan non-Muslim. Frans Rosenthal memuji etos kerja Muslim yang terbuka, termasuk memberikan pengakuan orang lain, non-Muslim, sebagai sumber kebenaran.
Baca juga : Antara Universalitas Islam dan Kearifan Lokal
Para ilmuwan Muslim di abad pertengahan melakukan pengembaraan ke berbagai negara, seperti India, Yunani, dan sumber-sumber peradaban yang sudah mapan saat itu.
Para ilmuwan Muslim jarang sekali wafat di tempat kelahirannya, tetapi wafat di medan penelitian atau di tempat pengabdian keilmuan. Keluhuran dan keterbukaan ilmuwan Muslim lebih terasa dari karya-karya mereka yang mengapresiasi ilmuwan Yunani dan India.
Termasuk para ilmuwan Islam yang datang ke Indonesia, banyak sekali di antaranya dari Timur Tengah, Asia Barat dan Selatan. Para wali Songo dan para guru-guru mereka menghabiskan umurnya, hijrah secara fisik ke Indonesia. Tidak satu pun di antara mereka kembali ke negerinya, karena mereka sadar akan tanggung jawab dakwah dan keilmuan yang diembannya. Bahkan para rombongan dari negeri asal tidak wafat di sebuah tempat atau di sebuah pulau yang sama melainkan bertebaran, tidak bergerombol di suatu tempat. Para Wali Songo berjuang secara terpisah dan tempat wafatnya pun berbeda-beda satu sama lain.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.