Dark/Light Mode
Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (8)
Kejujuran Akademik
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kejujuran akademik identik dengan tradisi keilmuan muslim. Suatu waktu Imam Bukhari merantau ke sebuah negeri hanya untuk mencari informasi sebuah hadis dari seorang yang dianggap mengetahui hadis itu. Jauh-jauh merantau, setelah menemukan alamat ulama itu, dari kejauhan sang ulama membawa wajan kosong untuk menangkap kudanya, seolah-olah dalam wajan itu ada makanan padahal tidak ada, hanya untuk mengelabui kudanya supaya mendekat.
Menyaksikan pemandangan ini, tanpa berkata-kata apapun, ia meninggalkan ulama itu. Ia berpendapat tidak layak menerima informasi kepada orang yang berbohong, meskipun yang dibohongi itu binatang.
Imam Bukhari juga menetapkan syarat-syarat akademik bagi sebuah informasi. Terutama jika informasi itu berhubungan dengan hadis Nabi. Syarat yang ditetapkan Imam Bukhari untuk bisa disebut shahih atau tidaknya sebuah hadis ialah:
1) Sanad atau mata rantai informasi harus bersambung (ittishal al-sanad),
Baca juga : Antara Universalitas Islam dan Kearifan Lokal
2) ‘Adil atau narasumber informasi itu harus bersifat adil, yaitu harus muslim, baligh, berakal, tidak fasik dan tidak buruk tingkah lakunya.
3) Dhabith atau narasumber harus sempurna daya ingatnya, baik ingatan dalam benak ataupun tulisan.
4) Tidak ada syadz atau informasi yang diperoleh dari narasumber tidak bertentangan dengan informasi yang lebih valid (tsigah).
5) Tidak ada ‘illat atau cacat dari materi dan jalur informasi sumber itu.
Baca juga : Antara Kontinuitas dan Orisinalitas
Dalam penelitian ilmiah modern, tidak mensyaratkan kualitas kejujuran, keadilan, dan besarnya dosa yang dilakukan narasumber. Yang penting informasi yang diperoleh darinya dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya ilmuwan Islam sangat berhati-hati menerima informasi dari orang-orang yang tidak shalih, tidak wara’, tidak santun, apalagi suka berbohong. Ilman muslim selalu mengaitkan ilmu dengan berkah.
Ilmu yang diperoleh tidak dengan jujur, tidak ikhlas, apalagi melalui cara-cara tidak halal, maka itu dianggap ilmu-ilmu yang tidak berkah. Ilmu yang berkah berguna bagi dirinya dan orang lain, membahagiakan dunia dan diakhirat.
Kejujuran ilmiah bukan hanya dalam bidang studi ilmu-ilmu sosial tetapi juga pada ilmu-ilmu eksakta. Kejujuran ilmiah yang diperkenalkan para ilmuan muslim sejak masa awal diakui belum pernah ada sebelum dan mungkin sesudahnya.
Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 3)
Hal ini diakui oleh para ilmuan Barat, seperti Franz Rosenthal yang begitu takjub terhadap kejujuran dan kedisiplinan ilmuan Arab-Muslim dalam menelusuri informasi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.