Sebelumnya
Tetapi bila perbedaan itu dirajut dalam satu ikatan, bangsa ini akan tampil sebagai contoh yang memukau dunia: bagaimana sebuah negara besar bisa menjaga harmoni di tengah pluralitas yang ekstrem. Di sinilah persatuan bukan sesuatu yang abstrak. Ia harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, dalam kebijakan publik yang inklusif, dalam ruang politik yang memberi tempat bagi aspirasi rakyat tanpa harus ditempuh melalui kekerasan. Ia harus hidup dalam pendidikan yang menanamkan gotong royong dan solidaritas sejak dini.
Persatuan tidak berarti menutup pintu kritik, tetapi justru memastikan bahwa kritik disampaikan dalam bingkai kebangsaan, dengan cara yang membangun. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan pandangan, tetapi memberi tempat agar perbedaan itu bisa menjadi bahan musyawarah untuk keputusan yang lebih bijaksana. Maka seruan “Mari kita kembali bersama bersatu di dalam Rumah Pancasila” sesungguhnya adalah seruan untuk kembali menegakkan Persatuan Indonesia sebagai nilai hidup.
Baca juga : Geopolitik Kepemimpinan Dedi Mulyadi: Narasi Publik Melalui Bahasa Digital
Kita boleh-boleh saja berbeda pilihan politik, bahkan berbeda cara memandang masa depan. Tetapi di atas semua itu, kita tetap satu bangsa yang terikat oleh sejarah dan cita-cita yang sama. Masa depan gemilang bangsa ini hanya dapat diraih bila persatuan dijadikan poros utama. Negara tidak akan pernah mampu melangkah jauh bila energinya terkuras untuk memperbaiki kerusuhan yang ditimbulkan anak kandung demokrasi yang belum matang.
Di sinilah Pancasila menunjukkan wajah filosofisnya yang mendalam. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, bukan sekadar ajakan untuk tidak bertikai, melainkan pula sebuah visi ontologis: bahwa keberadaan bangsa ini hanya bermakna bila kita menempatkan diri sebagai bagian dari keseluruhan. Pancasila mengajarkan bahwa kebebasan tanpa persatuan hanya melahirkan kekacauan, tetapi persatuan yang dirajut dalam kebebasan akan menjadi dasar kokoh bagi lahirnya peradaban besar.
Baca juga : Mencegah Gejolak Sosial Lewat Kebijakan Pajak Yang Adil
Inilah kearifan yang membedakan Pancasila dari sekadar kontrak politik; ia adalah filsafat hidup yang menuntun bangsa untuk melampaui kepentingan diri. Sehingga persatuan dalam bingkai Pancasila bukanlah pemaksaan homogenitas, melainkan pengakuan atas pluralitas yang dikelola secara arif. Falsafah ini menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan ruang belajar bersama yang memperkaya jiwa bangsa.
Ketika elite lebih sibuk mengejar kepentingan sempit, ketika warga mudah terjebak dalam polarisasi, maka seruan luhur Pancasila seakan kehilangan gema. Persatuan tidak cukup menjadi semboyan; ia harus diwujudkan dalam keputusan, kebijakan, dan sikap hidup yang memuliakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Tanpa itu, Indonesia akan terperangkap dalam lingkaran konflik yang melelahkan dan merugikan. Oleh karena itu, panggilan sejarah hari ini jelas: kita harus kembali ke Rumah Pancasila, tempat setiap anak bangsa merasa aman, setara, dan dihargai.
Baca juga : Geopolitik Indonesia: Partai Koalisi Dan PDI Perjuangan Partai Penyeimbang (Bagian I)
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Ketua Dewan Pembina Center for Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.