BREAKING NEWS
 

Keracunan Karbon Monoksida

Selasa, 14 Oktober 2025 07:30 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam beberapa hari ter­akhir, sejumlah media massa menurunkan berita tentang kisah menyedihkan sepasang suami-istri di Solok, Sumatera Barat. Kejadian ini, menurut berbagai laporan, diduga berhubungan dengan gas karbon monoksida. Tentu harus dipastikan terlebih dahulu apakah benar penyebabnya adalah keracunan gas karbon monoksida atau faktor lain. Untuk itu, diperlukan analisis ­forensik yang mendalam. Namun, ­sebagai bahan pembelajaran, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami tentang keracunan karbon monoksida.

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berbau (odorless), tidak berasa (tasteless), dan tidak berwarna (colorless). Bila terhirup dalam dosis tinggi, gas ini dapat menyebabkan sakit berat bahkan kematian. Afinitas (kekuatan ikatan antara dua zat, Red) gas CO terhadap hemoglobin lebih dari 200 kali lebih kuat dibanding oksigen (O₂). Artinya, ketika seseorang menghirup gas CO, ikatan HbO₂ (hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh) akan digantikan oleh HbCO (karboksihemoglobin). Akibatnya, berbagai jaringan dan organ tubuh tidak mendapat oksigen dan dapat mengalami kerusakan, yang dalam kasus berat bisa berujung pada kematian.

Baca juga : UHC Dan Lima Program Kesehatan Paru

Setiap tahun, diperkirakan terdapat sekitar 28 ribu kematian di dunia akibat keracunan gas CO. Di Amerika Serikat ­saja, lebih dari 400 orang meninggal setiap tahun karena paparan gas ini. Data dari negara tersebut juga menunjukkan ­bahwa keracunan CO menyebabkan sekitar 100 ribu kun­jungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan 14 ribu pasien harus dirawat di rumah sakit setiap tahunnya. Indonesia sendiri belum memiliki data pasti terkait jumlah kematian akibat gas karbon monoksida.

Adsense

Laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam kondisi ter­tentu, seseorang dapat meninggal akibat keracunan CO bahkan sebelum gejala muncul (can die from CO poisoning before they have symptoms). Artinya, efeknya bisa sangat cepat dan fatal. Meski begitu, tidak semua kasus keracunan CO berujung pada kematian. Dampaknya tergantung pada besarnya dosis yang terhirup dan seberapa cepat korban bisa keluar dari area paparan.

Baca juga : Deklarasi “TB Warriors” Di Kemenko PMK

Gejala awal keracunan CO dapat berupa sakit kepala, ­pusing, lemas, mual, muntah, nyeri dada, dan ketidaknyamanan perut (upset stomach). Perlu ditekankan bahwa tanda dan ­gejala klinis keracunan CO ­tidak spesifik, sehingga diagnosis pasti sering kali terlambat. Ada dua dasar penegakan diagnosis, yakni bila ditemukan peningkatan kadar HbCO (karboksihemoglobin) dalam darah, atau berdasarkan gejala klinis dan riwayat dugaan paparan gas CO.

Penanganan utama yang harus segera dilakukan adalah memindahkan korban dari sumber ­paparan dan memberikan oksigen 100 persen. Pada kasus ­berat atau yang disertai gangguan neurologis, dapat dipertimbangkan terapi oksigen hiperbarik. Waktu paruh eliminasi (elimination half-life) karbon monoksida berbeda-beda, sekitar 4,5 jam bila bernapas udara bebas, 1,5 jam bila diberikan oksigen 100 persen, dan hanya 20 menit bila diberi tekanan oksigen 100 persen pada 3 atmosfer seperti dalam pengobatan hiperbarik.

Baca juga : Kapan Gejala Keracunan Makanan Muncul

Perlu diketahui pula bahwa gangguan pada sistem saraf dan otak dapat muncul setelah pasien pulih dari keracunan karbon monoksida. Gejalanya bisa berupa gangguan daya ingat, perubahan kepribadian, dan gangguan gerak. Risiko munculnya gejala ini meningkat pada lansia atau korban yang sempat kehilangan kesadaran saat terpapar gas CO.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes dan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia, dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense