Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 16 Oktober 2025, saya menjadi pembicara pada acara PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) tentang Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ada tiga hal yang saya sampaikan. Pertama, tentang manfaat MBG dan pengalaman berbagai negara lain. Saya menyebutkan antara lain praktik di Inggris, Brazil, Jepang, Amerika Serikat, sampai ke tetangga kita di ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Filipina dan Thailand.
Kedua, tentang bagaimana mengatasi keracunan makanan yang masih terjadi. Untuk hal ini, saya menyampaikan bahwa keamanan pangan merupakan hal mutlak yang harus diterapkan tanpa kompromi. Serta bagaimana mengambil pengalaman dari kasus keracunan yang sudah terjadi dan penerapan Continuous Quality Improvement dapat dijalankan.
Ketiga, tentang tiga evaluasi yang saya usulkan. Yaitu evaluasi penyebab keracunan dan pencegahannya ke depan, evaluasi mutu gizi MBG dan dampaknya, serta evaluasi sistem pelaksanaan dengan membuka dan menganalisis berbagai kemungkinan yang ada.
Baca juga : Waspada Peningkatan Pasien Flu
Yang amat menarik adalah pertanyaan peserta yang benar-benar menggambarkan keadaan lapangan, tantangan dan bagaimana mereka menanganinya. Pertanyaan pertama datang dari seorang guru SMA yang mengangkat empat hal. Pertama, mengusulkan adanya komunikasi antara SPPG dan sekolah.
Kedua, beberapa hari yang lalu MBG tidak datang, padahal anak-anak tidak membawa bekal maupun uang jajan.
Ketiga, dalam seminggu terakhir menu makanan selalu telur saja, dan hari ini hanya dengan tiga butir kelengkeng. Keempat, di luar berbagai kekurangan, pada dasarnya anak-anak tetap senang dengan MBG.
Baca juga : Keracunan Karbon Monoksida
Penanya kedua adalah seorang bapak guru yang menyampaikan tiga hal. Pertama, sudah terjadi semacam komunikasi dengan SPPG. Murid menuliskan menu yang diinginkan dan dimasukkan ke tray yang dikembalikan ke SPPG.
Kedua, anak-anak sangat senang ketika dikasih menu “chicken katsu,” sesuatu yang agak ironis sebenarnya. Ketiga, bapak guru ini juga mengusulkan agar yang memasak adalah kantin sekolah saja, sehingga makanan tetap segar dan hangat.
Penanya ketiga adalah orang tua murid TK yang jumlah anaknya hanya 17. Karena murid sedikit, semua MBG yang diterima dicicipi terlebih dahulu sebelum diberikan ke siswa. Pagi hari itu menu untuk anak TK adalah ayam geprek dengan sambal, yang tentu tidak pas untuk anak-anak. Orang tua dan guru TK ini juga memodifikasi makanan. Misalnya, kentang goreng yang sudah lembek digoreng ulang menjadi perkedel. Ibu orang tua murid ini sangat mengharapkan perhatian khusus pada pemberian MBG untuk anak-anak TK, yang tentunya harus berbeda dengan anak-anak yang lebih besar.
Baca juga : UHC Dan Lima Program Kesehatan Paru
Di akhir acara dibicarakan arahan Bapak Presiden kepada Kepala Badan Gizi Nasional tentang penggunaan SPPG Polri, karena hasil kerjanya baik. Laman Presiden RI secara jelas menuliskan, “SPPG Polri: Langkah Strategis Presiden Prabowo untuk Gizi Rakyat.” Untuk SPPG yang baik, saya menyampaikan bahwa setidaknya diperlukan tiga unsur utama: manusianya, SOP yang jelas, serta bahan dan alat yang memadai. Nampaknya sesuai arahan Presiden, SPPG Polri dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dan tentu harus konsisten di tahun-tahun mendatang, di mana program MBG masih akan terus berjalan.
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes dan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia, dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.