Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kepuasan publik terhadap satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan politik termitigasi dengan baik. Kunjungan Prabowo ke luar negeri menunjukkan hasil positif untuk meredakan ketegangan geopolitik global. Walaupun program-program andalan seperti MBG dan Danantara masih memerlukan kajian khusus.
“Supaya kinerja pemerintah lebih kiclong lagi, menteri nakal perlu di-reshuffle, Mo," celetuk Petruk cengengesan.
Romo Semar kurang semangat menaggapi komentar Petruk tentang evaluasi pemerintahan Prabowo – Gibran. Romo Semar sedang berduka dengan berpulangnya dalang kondang Ki Anom Soeroto pekan lalu. Dalang legendaris khas dengan suara merdu, telah meninggalkan kita semua. Khususnya para seniman dalang dan seni kerawitan.
Baca juga : Drupada Juru Damai Trah Barata
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan Tiwul dan ubi bakar menambah semarak sarapan pagi padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Puntadewa merayakan satu tahun berdirinya kerajaan Amarta dengan mengundang seratus raja.
Kocap kacarito, Kerajaan Amarta genap satu tahun usianya. Semenjak Pandawa melakukan babat alas wanamarta, hutan yang tadinya belantara berubah wujud menjadi kerajaan yang “ gemah ripah loh jinawe”. Kemajuan pesat Amarta membuat iri para raja-raja sekitar. Khususnya Prabu Duryudana raja Hastina merasa tersaingi dengan berdirinya kerajaan Amarta.
Prabu Puntadewa berniat mengadakan Sesaji Rajasuya dengan mengundang seratus raja dari kerajaan sahabat. Ritual tahunan ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Hyang Widi atas kemakmuran kawula Amarta.
Baca juga : Gugatan Bima Pada Sidang Umum Dewata
Prabu Kresna sebagai penasehat para Pandawa diundang khusus untuk memberikan masukan dan saran demi suksesnya acara tersebut. Mengundang seratus raja untuk hadir dalam waktu dekat bukan perkara yang mudah. Apalagi kehadiran raja-raja tersebut datang secara bersamaan.
Saat para Pandawa mempersiapkan sesaji Rajasuya, dapat kabar dari Prabu Baladewa yang mengabarkan bahwa seratus raja tidak bisa hadir ke Amarta. Karena para raja tersebut sedang disandera Prabu Jarasanda. Jarasanda raja bengis dari kerajaan Magada tidak ingin raja-raja tersebut bersekutu dengan Pandawa.
Puntadewa mengutus Kresna, Baladewa, dan Bima untuk membebaskan raja yang ditahan Prabu Jarasanda. Untuk bisa masuk ke wilayah kerajaan Magada, ketiga utusan Pandawa menyamar sebagai brahmana. Karena Jarasanda hormat kepada sosok brahmana. Sehingga kedatangan ketiganya tidak diketahui Prabu Jarasanda.
Baca juga : Membangun Harus Pikirkan Lingkungan
Bima berhasil masuk istana dan menyeret prabu Jarasanda ke alun-alun Magada. Terjadi duel antara Bima dan Jarasanda. Akhirnya Jarasanda tewas oleh kuku Pancanaka milik Bima. Sedangkan Kresna dan Baladewa berhasil membebaskan para raja dari cengkraman Jarasanda.
“Mirip drama pembebasan sandera di jalur Gaza, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Satria Pandawa akhirnya berhasil membebaskan para sandera,” jawab Romo Semar. "Evaluasi jalannya pemerintahan penting, demi meningkatkan kinerja. Tapi yang jelas untuk dapat menyenangkan semua pihak bukan pekerjaan mudah," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.