Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kemeriahan peringatan 80 tahun kemerdekaan RI di berbagai wilayah Nusantara merupakan bukti keberhasilan capaian kinerja pemerintahan Prabowo 299 hari kerja. Walaupun masih terjadi ketimpangan di berbagai sektor, namun arah pembangunan bangsa ini sudah benar dan terukur. Sehingga hakikat sebuah kemerdekaan sejati dapat dirasakan oleh rakyat.
“Jangan sampai merdeka hanya sebatas retorika, Mo,” celetuk Petruk serius. Romo Semar hanya mesem dan mengangguk mengamini apa yang dikatakan Petruk. Romo Semar sebetulnya sedang galau atas keprihatinan Presiden tentang “serakahnomics”, yaitu keserakahan sekelompok orang mengeruk sumber daya alam untuk kepentingan pribadi.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit dan pisang rebus. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, para satria Pandawa euforia bersukacita merayakan kemenangan perang Baratayuda atas Kurawa.
Baca juga : Kisruh Upeti Tinggi Sang Bupati
Kocap Kacarito. Pandawa berhasil mengalahkan Kurawa dalam perang saudara memperebutkan tahta kerajaan Hastina. Kemenangan Pandawa ditandai dengan tewasnya prabu Duryudana melawan Bima. Hampir saja Duryudana berhasil mengelabui Pandawa dengan bersembunyi di dalam air telaga. Namun Prabu Kresna berhasil menemukan persembunyian Prabu Duryudana.
Kekalahan Duryudana bersama Kurawa menyisakan penderitaan kawula Hastina dan Amarta. Sebab selama di bawah kekuasaan Duryudana, kekayaan dan sumber daya alam kerajaan Hastina dan Amarta diekploitasi habis tanpa menyisakan sedikit pun untuk anak cucu mereka.
Konon, Prabu Pandu Dewanata yaitu orang tua Pandawa mewariskan kerajaan Hastina untuk anak-anaknya. Namun Kurawa melalui Patih Sengkuni mengingkari pesan Prabu Pandu Dewanata. Akibatnya tahta kerajaan Hastina jatuh ke tangan Prabu Duryudana dan Kurawa.
Baca juga : Amnesti Untuk Kalanjaya Dan Kalantaka
Keserakahan Kurawa tidak berhenti hanya merebut tahta Hastina. Dalam permainan dadu, Patih Sengkuni berhasil merebut tahta kerajaan Amarta yang dibangun oleh para Pandawa. Jatuhnya Amarta ke tangan Prabu Duryudana sebagai pemicu terjadinya perang Baratayuda. Yaitu perang antar trah Abiyasa dan darah Barata.
Setidaknya Pandawa telah melakukan diplomasi untuk mencari solusi damai mencegah terjadinya perang Baratayuda. Pandawa mengirim duta Dewi Kunti dan Drupada ke Hastina untuk mengingatkan Prabu Duryudana. Namun kedua utusan Pandawa tersebut ditolak Prabu Duryudana.
Prabu Kresna diutus Pandawa sebagai duta pamungkas untuk meminta kembali separuh Kerajaan Hastina dan Amarta. Awalnya Prabu Duryudana bersedia mengembalikan separuh Kerajaan Hastina kepada Pandawa. Namun, Duryudana ingkar janji dan justru menyerang Prabu Kresna. Maka terjadilah perang Baratayuda yaitu perang untuk membrantas kebatilan dan keserakahan.
Baca juga : Cuaca Ekstrem Menerjang Dwarawati
“Kita belum merdeka dari keserakahan, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Dampak dari “serakahnomics”, rakyat tidak dapat menikmati hasil kekayaan alam secara merata,” jawab Romo Semar pendek. “Sehingga jurang kemiskinan semakin dalam. Akibatnya tujuan mulia dari sebuah kemerdekaan suatu bangsa yaitu menuju masyarakat yang adil dan makmur tidak terwujud,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.