BREAKING NEWS
 

Antisipasi Kemungkinan KLB Penyakit Pasca Banjir Besar

Selasa, 9 Desember 2025 07:14 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara dan ­Sumatera Barat masih menghadapi berbagai masalah akibat bencana banjir besar yang melanda. Berbagai upaya ­pelayanan kesehatan di la­pangan tentu ­sudah dilakukan, termasuk penye­diaan tenaga kesehatan, logistik, dan reha­bilitasi ­fasilitas pela­yanan kesehatan seperti ­pus­kesmas dan rumah sakit.

Dengan berjalannya waktu dan situasi yang masih belum terkendali karena kerusakan akibat bencana memang amat besar, maka satu hal yang perlu diantisipasi pada hari-hari ini adalah kemungkinan peningkatan kasus penyakit menular. Sudah mulai banyak diberitakan tentang peningkatan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), diare dan sebagainya. Namun, akan baik apabila kita membahas lebih dalam dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan ledakan kasus, atau bahkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular tertentu.

Dalam hal ini, kita dapat ­mengambil pelajaran dari ­artikel bulan Oktober 2025 di Journal Microbiology berjudul ­“Flood-associated Disease Outbreaks and Transmission in Southeast Asia”. Ini artikel ilmiah terbaru tentang dampak banjir terhadap penyakit ­menular di Asia Tenggara, termasuk juga data-data dari negara kita.

Secara umum, artikel ini ­menyampaikan beberapa mikro­organisme yang perlu diwas­padai sehubungan ­dengan banjir, yaitu spesies Zoo­notic Leptospira yang memang ­banyak terdapat di air banjir; serta patogen lain seperti ­Salmonella typhi, Vibrio ­cholerae, Hepatitis A, dan parasit yang sebelumnya bersirkulasi dalam status ­endemis rendah, tetapi karena situasi bencana dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sejauh ini kita sudah melihat laporan kasus penyakit di daerah bencana di Sumatera. Akan baik apabila dapat dilaporkan mikroorganisme apa saja yang sedang beredar, sehingga dapat ditangani lebih tepat.

Baca juga : Kesehatan Paru Dan Pernapasan Pengungsi Sumatera

Selain mikroorganisme patogen di atas, artikel ini juga menegaskan bahwa air banjir dapat mengandung tiga hal: feses manusia, berbagai limbah, serta patogen berbahaya dari hewan. Ketiganya dapat berkontak langsung dengan saudara-saudara kita di daerah bencana, yang tentunya berpotensi menularkan penyakit.

Kemudian, pada keadaan ­sesudah banjir dan adanya ­banyak air tergenang, kita harus mengantisipasi peningkatan penyakit yang ditularkan nyamuk, terutama demam berdarah ­dengue dan juga malaria.

Adsense

Artikel ini juga menyampaikan lima hal lain yang dapat memperburuk situasi penyakit menular pascabanjir, yaitu: Pertama, tidak berjalannya sistem jaminan ketersediaan air bersih, kesehatan lingkungan, air, dan sanitasi (water, sanitation, and hygiene/WASH).

Kedua, terjadinya resis­tensi antimikroba (antimicrobial ­resistance/AMR). Ketiga, ber­bagai gangguan fisik dan ­mental para pengungsi. Keempat, ­kepadatan kerumunan di ­tempat ­pengungsian. Kelima, ter­ganggunya pelayanan kesehatan karena kerusakan fasilitas dan keterbatasan tenaga kesehatan.

Baca juga : Penanganan Kesehatan Bencana Di Sumatera

Artikel ilmiah ini juga menyajikan enam data peningkatan kasus penyakit menular di Asia Tenggara pada 2024–2025 akibat banjir atau hujan amat lebat, tiga di antaranya terjadi di negara kita. Untuk setiap kejadian disebutkan perkiraan jumlah kasus dan kematiannya (jika tersedia datanya).

Disebutkan bahwa pada ­Januari–Juni 2025 di Utara Thailand terdapat 1.623 kasus leptospirosis dengan 20 ke­matian. Pada Juni–Agustus 2025 di Filipina dilaporkan 4.850 ­kasus leptospirosis, namun ­jumlah kematiannya tidak diketahui.

Selanjutnya, pada Januari–September 2025 di negara kita ada peningkatan kasus dengue akibat hujan amat lebat, yaitu 499 kasus dan 2 kematian di Kepulauan Riau, 108 kasus di Aceh, dan 200 kasus di Bangka Belitung.

Di tahun 2024, pada Maret–Mei terjadi banjir di Jawa Tengah dengan lebih dari 200 kasus leptospirosis. Pada April–Mei 2024 dilaporkan 200–300 kasus diare dengan 5 kematian di Kabupaten Pesisir Selatan. Pada November 2024 di Yangon, Myanmar terdapat 205 kasus diare berair (diduga kolera) dan pada November 2024 di Provinsi Tak, Thailand, juga dilaporkan kasus kolera.

Baca juga : Lima Anak Meninggal Di Riau Karena Influenza

Kita amat berharap jangan sampai terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular pada bencana besar yang kini berlangsung. Untuk mencegah dan menanggulanginya, peme­rintah perlu memberi perhatian besar pada kegiatan pengendaliannya.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara; Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit; Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI (April 2024)
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI (2025)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense