Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam beberapa hari terakhir, berbagai media Malaysia dan internasional yang dikutip media massa kita memberitakan kenaikan kasus tuberkulosis di Malaysia. Ada media yang menyebutnya sebagai kejadian luar biasa. Asia News Network (ANN) pada 16 Februari 2026 dan The Star pada 15 Februari 2026 mengangkat judul “TB outbreak: Malaysia records 503 new cases”.
Jika ditelaah lebih mendalam, pemberitaan tersebut muncul karena Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan peningkatan kasus TB pada minggu pertama Februari, bahkan disertai data per negara bagian. Disebutkan, pada periode 1–7 Februari terdapat 503 kasus baru TB di Malaysia, dari total 2.571 kasus sejak awal tahun ini.
Rinciannya: Sabah 614 kasus (23,8 persen), Selangor 476 kasus (18,51 persen), Sarawak 257 kasus (10 persen), Johor 233 kasus (9 persen), serta Kuala Lumpur dan Putrajaya masing-masing 202 kasus (7,8 persen).
Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad mengungkapkan, hingga awal Februari 2026 telah terdeteksi 10 klaster TB baru di tujuh negara bagian. Empat klaster dilaporkan di Selangor, sementara lainnya di Johor, Kedah, Kelantan, Pahang, Perlis, dan Sabah. Di Johor dilaporkan seorang guru menjadi sumber penularan bagi 29 anak dan delapan orang dewasa.
Baca juga : Visi Kesehatan Kepulauan 2050
Yang dimaksud dengan klaster adalah ditemukannya dua atau lebih kasus, dalam hal ini tuberkulosis, yang saling berhubungan secara epidemiologis dalam kerangka tempat dan waktu.
Perkembangan di Malaysia menunjukkan kegiatan surveilans berjalan baik. Surveilans adalah pengamatan data epidemiologi secara terus-menerus dan dilaporkan setiap minggu, sehingga terdapat 52 laporan dalam setahun. Kenaikan pada minggu kelima dilaporkan Bernama.com pada 15 Februari 2026 dengan judul “503 New TB Cases Recorded By Epidemiological Week 5, MOH”.
Surveilans bukan hanya pengamatan rutin. Yang lebih penting adalah tindak lanjut ketika terjadi perubahan pola epidemiologis. Pada minggu kelima 2026, Kementerian Kesehatan Malaysia langsung menyampaikan tiga pernyataan kepada masyarakat.
Pertama, masyarakat diminta tetap waspada dengan menerapkan etika batuk dan bersin serta menggunakan masker saat berada di kerumunan. Kedua, mereka yang memiliki gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, hilang nafsu makan, atau penurunan berat badan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Ketiga, langkah tersebut ditekankan sebagai tanggung jawab sosial untuk melindungi keluarga dan masyarakat dari penularan tuberkulosis.
Baca juga : Dengue Di ASEAN Dan Indonesia
Indonesia diketahui sebagai penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak kedua di dunia. Pengendalian tuberkulosis juga menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Wins) Asta Cita Presiden Prabowo dan Wapres Gibran.
Sehubungan dengan itu, akan baik apabila Indonesia juga memiliki laporan mingguan terbuka mengenai data TB, baik angka nasional maupun per provinsi, sebagaimana dilakukan Malaysia. Data mingguan yang disampaikan ke publik memiliki setidaknya tiga manfaat. Pertama, menunjukkan sistem surveilans berjalan baik. Kedua, memudahkan deteksi dini peningkatan kasus sehingga pengendalian bisa segera dilakukan. Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dinamika epidemiologi tuberkulosis dan langkah antisipasi yang diperlukan.
Media internasional South China Morning Post (SCMP) pada 11 Februari 2026 menggambarkan situasi tersebut dengan judul “Malaysia risks under-reporting of TB cases as ‘slow-burn epidemic’ persists”. Istilah slow-burn epidemic menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan epidemi dengan tiga dimensi.
Pertama, bersifat persisten dan terus ada di berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia. Kedua, dampaknya sering terasa perlahan sehingga kerap luput dari perhatian sebagai epidemi. Ketiga, kasusnya dapat meningkat sewaktu-waktu, sebagaimana terjadi di Malaysia dan patut diwaspadai di negara kita.
Baca juga : 4 Penyakit Infeksi Paru Berat
Sebagai penutup, penanganan dan langkah antisipatif yang dilakukan Malaysia menunjukkan sistem kesehatan yang responsif. Upaya tersebut penting demi perlindungan kesehatan masyarakat secara luas.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) / Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.