Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tentu kita berbesar hati bahwa sampai sekarang tidak ada pasien dengan penyakit akibat virus Nipah di negara kita. Di sisi lain, kita ketahui bahwa penyakit ini bermula dari kelelawar buah, genus Pteropus, yang kemudian menular ke manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui makanan seperti buah yang digigit kelelawar, melalui binatang babi dan lain-lain.
Untuk ini, perlu kita ketahui data ilmiah tentang kemungkinan virus Nipah pada kelelawar di negara kita. Berikut disampaikan beberapa hasil penelitian di negara kita tentang virus Nipah di kelelawar, yang dilakukan oleh peneliti-peneliti kita serta sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah.
Peneliti kita Sendow dan kawan-kawan pada 2013 menerbitkan artikel ilmiah berjudul “Nipah Virus in the Fruit Bat Pteropus vampyrus in Sumatera, Indonesia”, di jurnal Plos One No. 8(7) 22 Juli 2013. Dalam penelitian ini digunakan pemeriksaan RT- PCR pada air liur dan urin kelelawar Pteropus vampyrus dari Sumatera Utara untuk genom virus Nipah.
Disebutkan bahwa ini laporan pertama deteksi virus Nipah pada kelelawar Pteropus vampyrus di Sumatera, Indonesia. Dalam kesimpulan artikel ini disampaikan bahwa studi ini memberikan bukti molekuler pertama bahwa virus Nipah memang beredar di populasi kelelawar buah di Indonesia.
Baca juga : Infeksi Virus Nipah Di India Masuk DONs WHO
Lebih lanjut, peneliti menunjukkan, virus tersebut tidak dapat dibedakan dari virus yang terdeteksi pada kelelawar Pteropus vampyrus di Semenanjung Malaysia, yang (terlepas dari keinginan untuk mendapatkan sekuens genom tambahan) mendukung kemungkinan adanya satu mega-populasi regional kelelawar Pteropus vampyrus , dan bahwa kelelawar buah bergerak tanpa hambatan melintasi batas negara. Temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi kebijakan regional dan memperkuat kesadaran serta kesiapan terhadap penyakit menular di Indonesia dan kawasan ini.
Peneliti kita yang lain, Putro dkk pada April 2025 menerbitkan artikel ilmiah juga, yang kali ini berjudul “Nipah Virus Detection in Pteropus hypomelanus Bats, Central Java, Indonesia” pada jurnal ilmiah “Emerging Infectious Diseases” No. 31(4) halaman 867–870. Peneliti ini meneliti 64 kelelawar buah dari pasar hewan di Yogyakarta (37 kelelawar) dan di Magelang (27 kelelawar). Dari 64 ini maka sesudah penelitian mendalam didapatkan 2 kelelawar dari Magelang yang positif virus Nipah.
Pada analisis filogenetik ditemukan bahwa kelelawar yang positif ini adalah genotip Malaysia, yang juga berkerabat dengan virus nipah dari kelelawar Pteropus di Kamboja, juga kelelawar Pteropus hypomelanus di Thailand dan juga isolat dari Malaysia.
Peneliti ini menyatakan bahwa temuan ilmiah mereka menunjukkan adanya hubungan genetika yang kuat pada virus Nipah di Asia Tenggara dan mengindikasikan kemungkinan adanya transmisi regional. Para peneliti ini juga secara jelas menyatakan bahwa otoritas kesehatan masyarakat perlu meningkatkan surveilans untuk mencegah penularan ke manusia.
Baca juga : Peningkatan Pemakaian Gas Tertawa (N₂O) Di Dunia
Selanjutnya, peneliti kita Sendow dll pada tahun 2008 melakukan penelitian serologi, yang dipublikasi dengan judul “Seroepidemiologi Nipah Virus Pada Kalong Dan Ternak Babi Di Beberapa Wilayah Di Indonesia” pada “Indonesian Journal of Biology”. Kesimpulan penelitian ini menuliskan bahwa dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa infeksi Nipah telah terjadi pada kalong kelelawar Pteropus vampyrus di Indonesia, namun pada babi belum terjadi.
Dengan ditemukannya reaktor Nipah pada kelelawar Pteropus vampyrus tetapi tidak pada babi di Indonesia, tidak berarti bahwa ternak babi aman dari infeksi Nipah. Pemutusan rantai interaksi antara babi dan kelelawar mutlak dilakukan agar wabah Nipah tidak terjadi di Indonesia.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemutusan penyediaan makanan bagi kelelawar termasuk kalong di sekitar peternakan babi, seperti peniadaan tanaman pohon buah-buahan. Peningkatan kewaspadaan terutama pada babi impor dari daerah tertular patut dilakukan agar Nipah tidak masuk ke Indonesia.
Semua hasil penelitian di atas kembali menegaskan pentingnya pendekatan Satu Kesehatan atau “One Health”, yaitu mengkoordinasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan di negara kita.
Baca juga : Penyakit Virus Nipah
Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.