BREAKING NEWS
 

Delapan Hal TB Dan DM Di Tambora

Jumat, 24 April 2026 19:25 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 23 April 2026, saya kembali memberikan ceramah tentang tuberkulosis (TB) langsung di lapangan, kali ini di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat. Seperti biasa, para ibu kader yang hadir sangat bersemangat dan mengajukan berbagai pertanyaan, salah satunya mengenai hubungan antara tuberkulosis dan Diabetes Mellitus (DM), atau yang dikenal sebagai penyakit gula.

Menurut WHO, risiko terkena TB memang meningkat pada pasien dengan DM. Setidaknya ada delapan hal penting terkait TB dan DM.

Pertama, prevalensi DM di dunia diperkirakan meningkat 50 persen antara tahun 2019 hingga 2045. Bahkan, angka median peningkatannya dapat mencapai 99 persen di negara dengan beban TB tinggi (high burden of TB).

Baca juga : Jeda Perang Dan Pasar Kebayoran

Kedua, data tahun 2023 menunjukkan sekitar 380.000 kasus baru TB di dunia dipicu oleh DM.

Ketiga, data ilmiah dalam bentuk systematic review melaporkan bahwa pada 2019 terdapat 15,3 persen pasien TB yang juga menderita DM, sementara prevalensi DM di masyarakat umum sebesar 9,3 persen. Artinya, angka DM lebih tinggi pada kelompok pasien TB.

Adsense

Keempat, pada 2023 terdapat sekitar 1,65 juta pasien TB di dunia yang juga memerlukan penanganan untuk DM, sehingga membutuhkan penanganan dua penyakit sekaligus.

Baca juga : BNI Tuntaskan Pengembalian Dana CU Paroki Aek Nabara

Kelima, salah satu penelitian menyebutkan risiko terkena TB meningkat 1,9 kali pada pasien DM. Artinya, penderita DM memiliki risiko hampir dua kali lipat lebih tinggi untuk terkena TB dibandingkan yang tidak menderita DM. Bahkan, penelitian lain menunjukkan peningkatan risiko hingga 4,2 kali pada pasien DM tipe 1.

Keenam, data lain yang dikutip WHO menyebutkan bahwa semakin lama seseorang menderita DM dan semakin tinggi kadar gula darahnya, maka risiko terkena TB juga semakin besar.

Ketujuh, DM juga berhubungan dengan peningkatan risiko resistensi TB dalam bentuk multidrug-resistant TB (MDR-TB), yang membuat penanganan menjadi lebih sulit, membutuhkan waktu pengobatan lebih lama, serta memiliki tingkat kesembuhan yang lebih rendah.

Baca juga : Kegagalan Diplomasi Damai Drupada

Kedelapan, pasien dengan TB dan DM juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekambuhan TB serta kematian akibat TB dibandingkan pasien TB tanpa DM.

Saya bersyukur dapat mengikuti berbagai pertemuan internasional, namun saya juga sangat menikmati kesempatan untuk bertemu langsung dengan masyarakat di lapangan, seperti di Puskesmas Tambora kali ini. Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilakukan di Puskesmas Ciracas dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Planet Senen. Selanjutnya, direncanakan kegiatan akan berlanjut di Puskesmas Cilandak pekan depan, dalam rangka memperingati Hari TB Sedunia 2026.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense