Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Perundingan damai antara Amerika dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Para pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut. Pertemuan di Islamabad merupakan pintu masuk untuk mengakhiri perang Timur Tengah. Namun dengan tidak tercapainya kesepakatan damai maka perang akan terus berkecamuk. Akibatnya pasokan minyak dunia terganggu dan Timur Tengah di ambang kehancuran.
“Maunya menang sendiri dan merasa paling benar, Mo,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar memilih diam tidak mau komentar lebih dalam tentang perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Romo Semar sedang prihatin dengan tertangkapnya Bupati Tulungagung dalam OTT KPK pekan lalu. Penangkapan ini menambah daftar kelam kepala daerah terjaring dalam kejahatan korupsi.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan Tiwul ditaburi parutan kelapa menambah nikmat sarapan pagi padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Drupada gagal sebagai juru runding Pandawa dan Kurawa.
Baca juga : Hoaks Di Medan Perang Kurusetera
Kocap kacarito, Prabu Drupada adalah raja Kerajaan Pancala Radya. Walau Pancala tidak sebesar Kerajaan Wirata maupun Hastina. Namun keberadaan Pancala dalam percaturan politik global disegani lawan dan kawan.
Prabu Drupada dalam silsilah hubungan keluarga dengan Pandawa adalah sebagai bapak mertua. Karena Dewi Drupadi anak Drupada kawin dengan Prabu Puntadewa. Drupada memiliki tanggung jawab moral untuk meminta kembali separuh Kerajaan Hastina dan Amarta yang dikuasai Kurawa.
Penunjukan Prabu Drupada sebagai duta Pandawa sudah disetujui Prabu Matswapati raja Wirata. Pandawa menetap dan tinggal di Kerajaan Wirata selama hidup dalam pengasingan akibat kalah main dadu dengan Kurawa.
Baca juga : Duryana Bimbang Maju Perang
Prabu Drupada datang ke Kerajaan Hastina untuk berunding dengan Prabu Duryudana. Sebagai wakil Pandawa, Drupada mempunyai tugas untuk meminta kembali kerajaan Amarta dan separuh Kerajaan Hastina dari Prabu Duryudana.
Dalam perjanjian sudah ditegaskan jika para Pandawa sudah menjalani hukuman hidup di tengah hutan selama dua belas tahun, maka Kerajaan Amarta dan separuh Hastina diberikan kembali kepada Pandawa.
Niat Prabu Drupada untuk berunding secara baik-baik dengan Duryudana diterima sebaliknya. Prabu Duryudana tidak welcome dengan duta Pandawa. Kedatangan Drupada dianggap menghina kehormatan Duryudana. Justru kedatangan Drupada ke meja perundingan menambah rumit permasalahan.
Baca juga : Berkaca Dari Dendam Perang Wirata
Prabu Duryudana menolak mengembalikan kerajaan Amarta dan separuh Hastina kepada Pandawa. Kembalinya Amarta harus melalui perang tanding. Pandawa berhak mendapatkan kembali wilayah Amarta jika dapat mengalahkan Kurawa dalam perang Baratayuda.
“Misi perdamaian antara Pandawa dan Kurawa gagal total, Mo,” sela Petruk membuyarkan laamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Prabu Duryudana merasa paling super dibanding utusan Pandawa,” jawab Semar pendek.
“Dalam berunding harus equal atau sederajat. Tidak boleh memandang rendah lawan berundingnya. Selain itu keduanya harus saling percaya. Perundingan tidak akan mencapai kesepakatan kalau tidak saling percaya,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.