Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Jakarta Selatan menyelenggarakan kegiatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada 30 April 2026. Acara dibuka oleh Wakil Wali Kota Administratif Jakarta Selatan, Ali Murthadho, yang saya apresiasi karena sangat mendukung program pengendalian TB. Wakil Wali Kota menjelaskan perlunya menghilangkan stigma—dengan berbagai ilustrasi lapangan yang disampaikannya—serta menganjurkan pendekatan “Cegah, Obati, dan Dampingi” dalam pengendalian tuberkulosis.
Dalam acara meriah yang diselenggarakan oleh Puskesmas Kecamatan Cilandak ini, saya ditugaskan untuk menyampaikan berbagai aspek TB. Saya memaparkan lima hal. Pertama, penjelasan tentang penemuan bakteri penyebab TB. Kedua, situasi epidemiologi TB di Indonesia dan dunia. Ketiga, bagaimana diagnosis TB dilakukan. Keempat, bagaimana pengobatannya. Kelima, tentang pencegahan tuberkulosis.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Kesehatan Perempuan Menentukan Arah Masa Depan Bangsa
Peserta acara adalah para kader TB se-Jakarta Selatan, yang hampir seluruhnya merupakan perempuan, seperti terlihat pada foto saya bersama para kader tersebut. Dapat disampaikan lima hal terkait perempuan dan TB serta isu gender yang merujuk pada data terbaru “WHO Global TB Report 2025”.
Pertama, 35 persen pasien TB dunia adalah perempuan, 11 persen anak dan remaja, serta 54 persen laki-laki. Data WHO ini menunjukkan bahwa di negara kita, pasien TB laki-laki 2,3 kali lebih banyak dibandingkan perempuan. Kedua, keberhasilan pengobatan TB di 31 negara dengan beban TB terbesar sedikit lebih tinggi pada perempuan dan remaja putri (90 persen) dibandingkan laki-laki dan remaja pria (87 persen).
Baca juga : Gema Bangsa Soroti Perlindungan Pekerja Perempuan Usai Tragedi Kereta Bekasi
Ketiga, secara global, 50 persen kematian akibat TB (pada pasien HIV negatif) terjadi pada laki-laki, sementara pada perempuan sebesar 34 persen dan pada anak serta remaja sebesar 16 persen. Untuk pasien dengan HIV positif, proporsi kematian tertinggi juga pada laki-laki (51 persen), disusul perempuan (47 persen).
Keempat, disparitas gender pada TB dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu biologis, perilaku sosial, serta norma dan peran gender. Dalam hal ini, di banyak negara, perempuan dapat mengalami hambatan dalam mengakses layanan kesehatan, baik karena aspek kultural maupun finansial. Kelima, WHO menegaskan bahwa pendekatan “gender-responsive” dalam pencegahan dan penanganan TB merupakan kunci penting untuk mencapai target global mengakhiri TB, termasuk di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.