Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) kian mengukuhkan diri sebagai mesin pertumbuhan baru industri otomotif nasional, seiring lonjakan penjualan dan perubahan preferensi konsumen menuju kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pergeseran signifikan struktur pasar. Porsi mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) turun dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025, dan kembali menyusut menjadi sekitar 75 persen per Maret 2026.
Sebaliknya, pangsa battery electric vehicle (BEV) melonjak dari 0,1 persen pada 2021 menjadi 12,9 persen pada 2025, lalu meningkat lagi menjadi 15,6 persen per Maret 2026. Penjualan BEV bahkan tumbuh 96 persen menjadi 33.146 unit, jauh melampaui pertumbuhan industri otomotif yang hanya 1,7 persen.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai tren tersebut menandai perubahan struktural dalam industri otomotif nasional dari dominasi satu teknologi menuju multi-powertrain.
Baca juga : Bank Mandiri Dukung Program Prioritas Nasional
“BEV kini menjadi primadona dan mesin pertumbuhan baru industri otomotif Indonesia. Dominasi kendaraan konvensional terus terkikis,” ujarnya dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu.
Sejumlah faktor mendorong percepatan adopsi EV, antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, semakin tipisnya selisih harga antara EV dan kendaraan konvensional, serta peningkatan performa baterai dengan jarak tempuh yang dapat mencapai hingga 600 kilometer.
Selain itu, bertambahnya model kendaraan listrik di pasar juga turut memperluas pilihan konsumen dan meningkatkan daya tarik segmen ini.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik sebagai bagian dari transformasi menuju ekonomi hijau.
Baca juga : Pemerintah Dan Industri Perkuat Ekosistem Otomotif Nasional
Menurutnya, industri otomotif merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga transisi menuju kendaraan listrik perlu dipastikan berjalan optimal.
“Kami ingin transformasi ini memberikan nilai tambah maksimal bagi industri dalam negeri, termasuk melalui peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN),” katanya.
Saat ini, terdapat 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun, serta total investasi sektor kendaraan listrik yang telah menembus Rp 25,67 triliun.
Selain mendorong pertumbuhan industri, peningkatan adopsi EV juga dinilai berkontribusi pada pengurangan konsumsi dan impor BBM, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak harga minyak dunia.
Baca juga : Temuan Gas Jumbo di Blok Ganal Mantapkan Prospek Ketahanan Energi Nasional
Dengan tren yang terus meningkat, pangsa pasar BEV diperkirakan dapat mencapai 19–20 persen pada akhir 2026, mempertegas peran kendaraan listrik sebagai pendorong utama pertumbuhan baru sektor otomotif nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya