BREAKING NEWS
 

MBG Dan Global Nutrition Report 2026

Senin, 13 Juli 2026 08:14 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - RM.id edisi 17 Juni 2026 menurunkan berita berjudul “Peme­rintah Manfaatkan Libur Sekolah untuk Evaluasi dan Penataan SPPG”. Dalam ­berita tersebut disebutkan bahwa Kepala Badan Komunikasi Peme­rintah menga­takan operasional dapur SPPG dihentikan sementara selama masa libur sekolah untuk memberikan ­ruang bagi proses evaluasi secara menye­luruh. Kini masa libur sekolah telah usai. Karena itu, kita tentu berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berjalan semakin baik.

Sebagai salah satu masukan, saya juga telah menulis ­artikel berjudul “Perbaikan Tata ­Kelola Makanan” di ­Harian Rakyat Merdeka edisi 4 Juli 2026. Selain itu, saya juga menulis beberapa artikel lain di ­Harian Rakyat Merdeka, seperti “Momentum Penilaian Dampak Kesehatan MBG”, “MBG Kita dan Pengala­man India”, “Lima Hal SPPG ­Polri”, “MBG dan Harapan Guru-Orang Tua”, serta “MBG dan Penuntasan Tuber­kulosis”. Seluruh tulisan tersebut saya sajikan dalam beberapa bulan terakhir sebagai masukan demi keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.

Sebagai tambahan referensi penting, saya ingin menyam­paikan “The 2026 Global Nutrition Report”. Laporan ini penting bukan hanya karena memuat data terbaru tahun 2026, tetapi juga karena mengkaji keterkaitan empat ­aspek utama, yaitu gizi, sistem pangan, sistem kesehatan, dan perubahan iklim (climate change).

Baca juga : Perkuat Dan Waspada Sistem Pertahanan-Keamanan Guna Menjaga Kedaulatan NKRI

Laporan tersebut menegaskan bahwa hubungan ke­empat sektor itu sangat erat dan ­saling memengaruhi satu sama lain. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan MBG di Indonesia. Terkait perubahan iklim, misalnya, laporan tersebut menjelaskan bahwa perubahan pola makan ­(dietary shifts) yang bertujuan mengurangi dampak terhadap lingkungan berpotensi meningkatkan risiko ketidakcukupan (inadequacy) mikro­nutrien.

Adsense

Selain itu, dampak jangka panjang perubahan iklim dan semakin seringnya cuaca ekstrem diperkirakan akan menurunkan produktivitas pertanian, mengurangi kandungan gizi pada sebagian tanaman, meningkatkan harga pangan, mengganggu sanitasi kesehatan, serta memicu meningkatnya berbagai penyakit.

Laporan ini juga menyampaikan rekomendasi mengenai ­pentingnya komunitas dan program gizi berintegrasi serta berkoordinasi dengan berba­gai sektor terkait, yang harus diwujudkan secara nyata di la­pangan. Dalam konteks inte­grasi, perlu disadari bahwa penye­diaan makanan sehat dalam suatu program masyarakat harus merupakan kombinasi antara sistem pangan, sistem kesehatan, dan sistem per­lindungan sosial. Ketiga sektor tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Baca juga : Bela Negara Menjadi Tugas Bersama Mewujudkan Kedaulatan NKRI

Dalam laporan tahun 2026 ini juga ditekankan pentingnya mewujudkan skenario win-win ­antara program gizi, sistem ­pangan, sistem kesehatan dan pengen­dalian perubahan iklim. Untuk itu diperlukan dialog yang intensif serta kerja sama yang baik, tidak semata-mata hanya dilihat dari sudut pandang program makanan.

Laporan tahun 2026 tersebut juga sejalan dengan Nutrition for Growth (N4G) Paris ­Summit 2025, yang menekan­kan pen­ting­nya aksi bersama antara sektor kesehatan, sistem pangan, perlindungan sosial, ketahanan masyarakat, dan pengelolaan program gizi. Disebutkan pula bahwa pada tingkat global diperlukan kerja sama multilateral serta sistem pendanaan yang memadai.

Sebagai penutup, ­“Global Nutrition Report 2026” me­na­warkan kerangka (framework) baru untuk memperkuat koordinasi dalam empat ­aspek ­utama, yaitu tata kelola, ­anggaran, kapasitas, dan data. Keempat ­aspek tersebut diharapkan mampu mendukung penyediaan ma­kanan sehat secara merata sekaligus menjamin keberlanjutan program. Semoga “Global Nutrition Report 2026” dapat menjadi salah satu referensi penting dalam upaya memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis di masa mendatang.

Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Transformasi Hukum, Industri Digital, Dan Persaingan Global

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta mantan Kepala Balitbangkes.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense