Dark/Light Mode

Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Selasa, 2 Juni 2026 06:58 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, bukan sekadar momentum ­seremonial untuk menge­nang sejarah lahirnya dasar negara ­Indonesia. Ia merupa­kan ­penanda penting tentang bagaimana bangsa ini di­bangun di atas fondasi pemikiran yang lahir dari pergulatan seja­rah, perdebatan ideologis, dan ­ke­sadaran geopolitik para pen­diri bangsa dalam membaca arah perubahan dunia.

Penetapan tanggal tersebut merujuk pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan ­Kemerdekaan Indonesia pada 1 Juni 1945, ketika Presiden Ir. Soekarno menyampaikan ­gagasan awal mengenai Panca­sila sebagai dasar negara. Dalam pidato monumental itu, Bung Karno tidak hanya merumuskan lima sila sebagai prinsip normatif kehidupan ber­bangsa dan ­bernegara, tetapi juga ­menghadirkan suatu pandangan besar mengenai posisi Indonesia di tengah dunia yang penuh ­konflik, kolonialisme, dan perebutan pengaruh antarbangsa.

Pancasila sejak awal lahir bukan di ruang kosong sejarah. Melainkan di tengah dunia yang sedang diguncang Perang Dunia II, dan pertarungan ideologi global yang menentukan arah peradaban manusia. Karena itulah, memahami Pancasila tidak cukup hanya sebagai simbol atau hafalan normatif yang diulang dalam pidato-pidato resmi.

Pancasila sejatinya merupa­kan pandangan hidup sekaligus strategi kebangsaan yang dirancang untuk menjaga Indonesia tetap berdiri tegak di tengah perubahan zaman yang terus bergerak dinamis. Para pendiri bangsa menyadari bahwa kemerdekaan politik, tidak akan bertahan tanpa fondasi ideologis yang mampu mempersatukan keberagaman Indonesia dan sekaligus memberi arah dalam menghadapi tekanan geopolitik internasional.

Kesadaran itulah yang men­jadikan Pancasila memiliki watak terbuka, adaptif, dan tetap relevan lintas generasi. Di tengah dunia yang terus berubah, Pancasila tidak kehi­langan maknanya, justru sema­kin ­menemukan relevansi historis dan strategisnya.

Baca juga : Idul Adha Dan Memperingati Lahirnya Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Hari ini, dunia kembali ber­ada dalam situasi ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks. Rivalitas kekuatan besar antara Amerika Serikat dan China terus memengaruhi stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Perang Rusia-Ukraina berkepanjangan memicu krisis energi, pangan, dan ekonomi global. Juga perang di Timur Tengah menghadirkan ancaman baru terhadap keamanan internasional dan stabilitas pasar dunia.

Di saat yang sama, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perang siber, serta perebutan pengaruh ekonomi global telah mengubah bentuk persaingan antarnegara menjadi semakin multidimensional. ­Dunia memasuki era ketika ­perang tidak selalu hadir dalam bentuk militer terbuka, melain­kan juga melalui domi­nasi teknologi, kontrol informasi, penguasaan sumber daya stra­tegis, hingga pengaruh budaya dan ekonomi.

Dalam situasi global ­seperti itu, Indonesia tidak mungkin bersikap pasif. Posisi geografis Indonesia yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, menjadikan Indonesia memiliki nilai strategis yang sangat besar dalam percaturan geopolitik dunia. Jalur perdagangan internasional, kepen­tingan maritim global, serta rivalitas kekuatan besar men­jadikan kawasan Asia Tenggara sebagai arena penting perebutan pengaruh dunia.

Di tengah kondisi tersebut, Pancasila menjadi jangkar ­moral dan ideologis yang menjaga ­Indonesia agar tidak mudah terseret dalam arus polarisasi global. Politik luar ­negeri bebas aktif yang selama ini menjadi identitas diplomasi Indonesia, sesungguhnya ­merupakan pengejawantahan nyata dari ­nilai-nilai Pancasila dalam ­praktik hubungan internasional.

Bersamaan pula arus globali­sasi, penetrasi budaya digital, penyebaran disinformasi, serta menguatnya politik identitas telah menghadirkan ancaman serius terhadap kohesi ­sosial nasional. Di ruang digital, masyarakat sering kali terjebak dalam polarisasi ekstrem, ujaran kebencian, dan perta­rungan opini yang mengikis se­mangat persatuan. Nilai gotong ­royong perlahan bergeser menjadi ­individualisme. Se­mangat musya­warah tergantikan oleh budaya saling menyerang. Bahkan di tengah kemajuan tek­nologi, manusia justru meng­hadapi krisis empati dan solidaritas sosial yang semakin nyata.

Baca juga : Hut Ke 61 Lemhannas RI: Membumikan Falsafah Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Dan Kajian Di Lemhannas Ri

Di sinilah pentingnya membumikan kembali Pancasila bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai etika publik dan orientasi kebangsaan dalam ­kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila tidak boleh berhenti pada pendekatan hafalan normatif, melainkan harus mampu menghadirkan ke­sadaran kritis tentang tantangan zaman yang sedang dihadapi bangsa.

Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam strategi pembangunan dan kebijakan negara. Ketahanan nasional di era geopolitik modern tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada kekuatan ekonomi, pangan, ­energi, teknologi, pendidikan, dan persatuan sosial bangsa.

Negara yang kuat bukan ­hanya negara yang memiliki senjata canggih. Tetapi ­negara yang rakyatnya memi­liki rasa percaya terhadap bangsa­­nya sendiri. Karena itu, ­penguatan karakter kebangsaan, ­pemerataan pembangunan, dan perlindungan terhadap ke­pen­tingan nasional harus menjadi prioritas strategis ­Indonesia di tengah perubahan global yang semakin cepat.

Pancasila juga mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat bangsa kehilangan akar moral dan identitas kebudayaannya. Modernitas tanpa karakter hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Di ­tengah derasnya arus kapitalisme global dan kompetisi dunia yang semakin keras, Indonesia membutuhkan keseimbangan antara pembangunan material dan pembangunan moral.

Momentum Hari Lahir Panca­sila seharusnya menjadi ruang refleksi nasional bahwa ke­kuatan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya alam, jumlah penduduk, atau posisi geografis strategisnya, melainkan pada kemampuan bangsa ini menjaga persatuan di tengah keberagaman dan memper­tahankan moralitas kebangsaan di tengah dunia yang semakin pragmatis.

Baca juga : Strategi Kebijaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Demokrasi Pancasila

Pancasila, adalah rumah besar Indonesia yang mempersatukan perbedaan sekaligus menjadi kompas dalam menghadapi perubahan zaman. Ketika dunia mengalami fragmentasi geopolitik, krisis kemanusiaan, dan ketidakpastian global, Panca­sila justru menawarkan pesan penting tentang keseimbangan, keadilan, solidaritas, dan perdamaian.

Tantangan geopolitik ­global boleh berubah bentuk dari ­ge­nerasi ke generasi, tetapi ke­butuhan akan persatuan, ­kea­dilan, kemanusiaan, dan ke­bijak­sanaan akan selalu menjadi fondasi utama keberlangsungan sebuah bangsa. Indonesia berada di ­tengah dunia yang penuh ­rivalitas dan ketidakpastian, ­tetapi selama Pancasila tetap dijaga sebagai jiwa kebangsaan, bangsa ini akan memiliki kemampuan untuk bertahan, ­beradaptasi, dan melangkah maju dengan martabatnya ­sendiri.

Oleh: Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.