Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ada pelajaran penting bagi kita dari sikap dan perlakuan Nabi terhadap panglima angkatan perangnya, Usamah ibn Zaid ibn Haritsah. Ketika peperangan baru saja usai, tiba-tiba menyelinap seorang musuh yang hendak memasuki wilayah kekuasaan pasukan Muslim. Usamah, yang pernah dipertanyakan kemampuannya menjadi panglima karena masih sangat junior, kurang dari 20 tahun, memergoki dan mengejar musuh tersebut.
Musuh itu terjebak di sebuah tebing sehingga tidak ada lagi jalan keluar. Di belakangnya terdapat tebing dan di sampingnya jurang. Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba musuh tersebut memekikkan dua kalimat syahadat di hadapan Usamah.
Kita tidak tahu apa maksud musuh bebuyutan itu mengucapkan syahadat. Usamah memahami syahadat tersebut hanya sebagai siasat untuk mengecoh pasukan Muslim agar tidak membunuhnya. Usamah kemudian menghunus pedang dan membunuh orang tersebut.
Menyaksikan kejadian itu, salah seorang sahabat melaporkan kepada Nabi bahwa Usamah telah membunuh orang yang sudah mengucapkan syahadat.
Baca juga : Deradikalisasi yang Berkeindonesiaan
Menanggapi laporan itu, Nabi marah sekali hingga terlihat urat di dahinya. Usamah dipanggil Nabi dan ditanya mengapa ia membunuh orang yang sudah bersyahadat.
Usamah menjawab bahwa pemuda itu hanya menggunakan syahadat sebagai taktik agar dirinya tidak dibunuh. Ia juga masih membawa senjata dan sewaktu-waktu dapat mencelakakan pasukan. Ia dibunuh karena Usamah menduga syahadat yang diucapkannya palsu.
Setelah mendengarkan dengan saksama alasan Usamah membunuh musuh yang telah bersyahadat, Nabi mengeluarkan sebuah prinsip: Nahnu nahkum bi al-dhawahir, wa Allah yatawalla al-sarair (Kita hanya menghukum apa yang tampak, sedangkan Allah SWT yang menghukum apa yang tersimpan di dalam hati).
Sikap Nabi ini menunjukkan betapa kita tidak boleh memvonis keyakinan dan kepercayaan orang lain. Jika seseorang secara formal mempersaksikan syahadatnya secara terbuka, kita tidak boleh lagi mengusiknya. Jika terdapat pelanggaran lain, biarlah proses hukum formal yang menyelesaikannya.
Baca juga : Pemerataan Kesempatan Belajar dan Mengajar
Usamah pun saat itu memohon ampun kepada Rasulullah atas peristiwa tersebut dan berjanji akan berhati-hati jika menemui peristiwa serupa di kemudian hari. Jika seseorang dieksekusi, sesungguhnya yang turut menjadi korban adalah keluarga terdekat orang tersebut. Bahkan, keluarga yang bersangkutan bisa mengurung diri berbulan-bulan karena tidak tahan menanggung rasa malu.
Semua orang harus berhati-hati agar tidak begitu mudah memvonis seseorang sebagai kafir, musyrik, atau ahlul bid’ah, karena boleh jadi vonis itu justru berbalik kepada diri sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa barang siapa menuduh orang lain kafir, padahal tuduhan itu tidak sesuai dengan kenyataan di sisi Allah SWT, maka tuduhan tersebut akan berakibat kembali kepada dirinya.
Sekali lagi, sikap Nabi tersebut sangat penting, terutama bagi masyarakat yang heterogen seperti Indonesia. Heterogenitas masyarakat mengharuskan kita untuk berhati-hati dalam melontarkan tuduhan atau sangkaan. Boleh jadi target kita hanya satu atau beberapa orang, tetapi dampaknya dapat mengancam persatuan bangsa dan negara.
Para penganjur Islam terdahulu pasti menyadari bahwa masih banyak warga umat yang akidahnya belum sepenuhnya benar. Namun, untuk sementara, mereka tetap dibiarkan karena bukankah yang terpenting terlebih dahulu ialah penanaman akidah? Setelah itu, barulah menyusul syariat dan akhlak.
Baca juga : Tentang Menshalati Jenazah Yang Beda Pandangan Politik
Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur menunjukkan hal tersebut. Ayat-ayat akidah lebih banyak turun di Makkah, kemudian ayat-ayat syariat dan hukum lebih banyak turun di Madinah. Ini berarti pangkalan pendaratan berupa akidah harus diutamakan agar memudahkan syariat dan hukum landing di dalam hati masyarakat.
Jika kita tidak taktis dan strategis, usaha dakwah kita bisa saja menjadi kontraproduktif. Berkembangnya kelompok radikal yang pada akhirnya menjadi teroris diduga antara lain disebabkan oleh ketidaksabaran para mubalig dalam merespons karakter umat yang heterogen.
Kita semua harus lebih banyak belajar dari taktik dan strategi Nabi dalam berdakwah: mengedepankan kebijaksanaan, menghargai keyakinan seseorang, dan tidak tergesa-gesa menghakimi apa yang berada di dalam hati manusia.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 21 Agustus 2026 dengan judul "Kemerdekaan Berkeyakinan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.