Dark/Light Mode

Pemerataan Kesempatan Belajar dan Mengajar

Rabu, 19 Agustus 2026 05:59 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu indikator keberhasilan khaira ummah ialah terselenggaranya pemerataan pendidikan, baik sebagai pelajar maupun sebagai pengajar. Sukses yang dicapai Nabi dalam mengendalikan dunia Arab ketika itu antara lain karena beliau menekankan arti penting pendidikan dan keterampilan.

Hak memperoleh pendidikan terbuka bagi laki-laki dan perempuan, baik muslim maupun nonmuslim. Memang ada hadis yang mewajibkan pendidikan bagi kaum Muslim, yaitu, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim,” tetapi ini tidak berarti bahwa menuntut ilmu bagi nonmuslim tidak wajib, apalagi dilarang. Dalam sejarah peradaban Islam, keterlibatan orang-orang nonmuslim dalam dunia pendidikan, baik sebagai murid maupun sebagai guru, tidak pernah dipersoalkan.

Ketika Perang Badar, Nabi memberikan kebebasan bersyarat kepada para tawanan berupa kewajiban mengajarkan keterampilan kepada penduduk Madinah, mereka yang mengikuti kelas-kelas keterampilan itu bukan hanya umat Islam, melainkan juga masyarakat Madinah secara umum, baik yang beragama Islam maupun yang beragama lain.

Baca juga : Tentang Menshalati Jenazah Yang Beda Pandangan Politik

Pilihan keterampilan itu antara lain merias pengantin atau salon dan menyamak kulit untuk perempuan. Sedangkan kaum laki-laki disediakan kelas keterampilan membuat senjata, menjadi tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan berbagai keterampilan khusus lainnya, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Dalam kasus ini juga diketahui bahwa seluruh tawanan perang yang memiliki keterampilan bisa menikmati kebebasan dari ancaman hukum adat perang ketika itu, berupa pembunuhan bagi kaum laki-laki dan perbudakan bagi kaum perempuan dan anak-anak. Para tawanan perang yang dibebaskan karena keterampilan yang dimilikinya, selain menikmati kebebasan, juga menerima bonus. Mereka juga tidak dipaksa untuk menganut agama Islam.

Di sinilah kehebatan Islam. Seharusnya berlaku hukum perang berupa pembunuhan terhadap tentara laki-laki, tetapi mereka justru dibebaskan dengan syarat. Syarat itu pun tidak terlalu berat karena telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Baca juga : Kewajiban Memuliakan Sesama Manusia

Dari kisah tersebut juga dipahami bahwa orang-orang nonmuslim sama-sama terlibat secara aktif, baik sebagai murid maupun sebagai guru. Nabi dan para sahabatnya juga tidak mempersoalkan kegiatan belajar bersama antara umat Muslim dan nonmuslim dalam satu subjek.

Demikian pula, Nabi dan para sahabatnya tidak pernah mempersoalkan agama guru-guru yang mengajarkan keterampilan tersebut. Yang pasti, di balik hubungan damai ini, umat-umat agama lain kemudian memilih agama Islam sebagai agama barunya dengan senang hati, tanpa sedikit pun paksaan. Dalam Islam pun sudah ditegaskan dalam ayat: “Tidak ada paksaan dalam beragama.”

Perkembangan selanjutnya, yaitu pada periode Khulafaur Rasyidin, sudah tidak asing lagi bagi guru-guru Muslim untuk mengajar ke negeri-negeri tetangga yang nonmuslim. Sementara di sisi lain, murid-murid Muslim diajari pelajaran-pelajaran khusus oleh guru-guru nonmuslim. Keadaan ini berlanjut sampai sekarang. Banyak sekali murid-murid Muslim mengecap pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi milik nonmuslim. Keterampilan mengajar yang diberikan kepada umat-umat nonmuslim di Madinah betul-betul mengangkat martabat hidup warga Madinah dan sekitarnya saat itu.

Baca juga : Mewaspadai Upaya Desunninisasi Umat

Pemerataan pendidikan tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, suku bangsa, agama, dan kepercayaan menjadi indikator penting suksesnya sebuah negara-bangsa dan umat. Pendidikan harus dianggap sebagai kebutuhan mendasar yang fardhu ‘ain bagi setiap individu. Terlalu banyak ayat dan hadis yang menyerukan perlunya pendidikan digerakkan dalam pembangunan masyarakat. Nabi pernah menegaskan: “Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka hendaklah menguasai ilmu pengetahuan; barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka hendaklah menguasai ilmu pengetahuan; dan barangsiapa yang menghendaki keduanya, maka hendaklah menguasai ilmu pengetahuan.”

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 19 Agustus 2026 dengan judul "Pemerataan Kesempatan Belajar dan Mengajar"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.