Dark/Light Mode

Trend Masa Depan Umat (16)

Nabi Perintis Khaira Ummah

Selasa, 11 Agustus 2026 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kelahiran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW. sekaligus menjadi perintis dan teladan bagi terbentuknya masyarakat umat yang ideal atau khaira ummah. Sebagaimana disinggung dalam pembahasan terdahulu, kata ummah berasal dari bahasa Hebrew/Ibrani, alef-mem, yang arti dasarnya adalah cinta kasih. Kemudian, kata tersebut menyeberang menjadi bahasa Arab umm, yang arti dasarnya adalah ibu.

Umm diartikan ibu karena ibu memiliki cinta kasih yang paling dalam. Dari akar kata alif-mim kemudian terbentuk kata amam (keterdepanan, keunggulan), imam (imam salat, pemimpin), ma’mum (pengikut imam, rakyat), dan amamah (konsep yang mengatur hubungan antara imam dan makmum serta pemimpin dan rakyat). Keseluruhan makna dasar ini menghimpun suatu komunitas khusus yang bernama ummah (baca: umat).

Qabilah ialah suatu komunitas yang dipersatukan oleh ikatan-ikatan primordial, seperti ikatan kesukuan, persamaan latar belakang sejarah, etnik, dan bahasa. Qabilah biasa diartikan sebagai clan dalam bahasa Inggris, yang berarti suku bangsa tertentu yang menghimpun sejumlah suku lokal yang kecil-kecil.

Baca juga : Membaca Pola Migrasi Umat

Namun, komunitas semacam ini belum bisa disebut umat karena tidak memiliki unsur-unsur tertentu. Substansi dan unsur penting yang harus ada di dalam komunitas umat ialah adanya kasih sayang yang mengikat suatu komunitas; adanya pemimpin yang disegani dan berwibawa; adanya makmum atau rakyat yang kritis tetapi santun; adanya sistem yang mengatur hubungan antara yang memimpin dan yang dipimpin; serta adanya ideologi kebersamaan yang bersifat kosmopolitan.

Salah satu ciri masyarakat umat ialah penghargaan terhadap pluralitas masyarakat, termasuk perbedaan agama dan kepercayaan. Relasi antarumat beragama bukanlah hal yang asing bagi Nabi. Banyak contoh sejarah yang dilakukan Nabi sangat menakjubkan. Ia banyak ditolong oleh dan menolong agama lain. Ketika Nabi masih remaja, ia melakukan misi perdagangan ke Syiria.

Di sana ia bertemu dengan seorang pendeta yang melihat tanda-tanda ajaib di bahu Muhammad. Sang pendeta memintanya agar sebaiknya segera kembali karena anak ini kelak akan menjadi orang besar, menjadi Nabi. Peristiwa lain terjadi ketika Nabi baru saja mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira. Ia dipertemukan dengan seorang pendeta kenalan istrinya, dan sang pendeta menerjemahkan pengalaman Nabi Muhammad sebagai awal dari misi kenabiannya. Nabi Muhammad sejak awal kenabiannya sudah akrab dengan para pendeta.

Baca juga : Akomodatif dengan Kearifan Lokal

Ia juga sering memberikan perlindungan terhadap agama-agama lain, termasuk melindungi para tokohnya. Konsep Darus Salam untuk non-Muslim yang kooperatif dan Darul Harbi untuk non-Muslim yang nonkooperatif merupakan konsep yang amat strategis yang tidak pernah diterapkan oleh etnik sebelumnya. Orang-orang yang beragama lain dan tidak memusuhi Nabi harus diberi perlindungan.

Hanya orang-orang non-Muslim dan munafik yang selalu mengangkat senjata terhadap Nabi yang perlu dihadapi dengan ketegasan. Itu pun, ketika Nabi menjalankan misi perang, ia tidak membolehkan membunuh anak-anak, orang-orang tua (‘ajuz), dan perempuan; tidak boleh merusak atau membakar rumah ibadah; tidak boleh mencabut atau mematahkan ranting pepohonan mereka; serta tidak boleh menghancurkan benda-benda budaya mereka. Kalau mereka sudah mengangkat tangan, tidak boleh lagi diperangi.

Ia juga mencontohkan banyak penyelesaian persoalan antara petani dan pemilik atau pengendali pengairan, menyelesaikan persoalan pascapanen, menyelesaikan persoalan okulasi penanaman kurma, menyelesaikan masalah kewarisan, harta pungutan, perkawinan antarumat beragama, dan persoalan pertetanggaan antarkabilah. Bahkan, konflik negara-negara besar sesama non-Muslim juga meminta jasa Nabi untuk menyelesaikannya. Jadi, Nabi Muhammad SAW. betul-betul layak disebut sebagai Bapak Perdamaian, Bapak HAM, Bapak Kemanusiaan, Bapak Pembebasan, dan Perintis Khaira Ummah.

Baca juga : Islam Maritim

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 11 Agustus 2026 dengan judul "Trend Masa Depan Umat (16) Nabi Perintis Khaira Ummah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.