Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Bencana datang silih berganti di Bumi Pertiwi. Gempa bumi NTT belum pulih, disusul kebakaran hutan. Lalu, Gunung Anak Krakatau erupsi pekan lalu. Gunung yang selama ini tidur mulai melontarkan lava panas dan abu vulkanik. Dampak abu vulkanik menyebar ke wilayah Banten, Jawa Barat dan Lampung. Di sisi lain, dampak abu vulkanik menyebabkan beberapa jadwal penerbangan Bandara Soekarno Hatta terganggu.
“Kenapa goro-goro terus menerus terjadi di negeri ini, Mo?” celetuk Petruk prihatin. Romo Semar memilih diam sambil menarik napas Panjang, seakan mau melepas beban berat yang sedang dialami. Bencana alam bukan saja menelan banyak korban. Dampak bencana alam merusak infrastruktur dan perekonomian.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Nasi goreng kampung bikinan Nyai Kanas-tren menambah nikmat sarapan pagi Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Kawah Candradimuka bergolak.
Baca juga : Kebakaran Hebat Kedaton Alengka
Kocap kacarito, Khayangan Jonggring Saloka geger. Masalahnya adalah perilaku Bethara Guru menyimpang dari tatanan kedewatan. Sebagai pucuk pimpinan para dewa, seharusnya tindakan dan perilakunya menjadi tauladan bagi para dewa dan kawula di Arcapada.
Bethara Guru menyetujui permintaan istrinya yakni Bethari Durga. Durga minta anaknya Dewa Srani dikawinkan dengan Dewi Drestanala. Padahal Drestanala sudah menjadi istri sah Arjuna. Perkawinan Arjuna dengan Drestanala sudah mengandung jabang bayi. Bethara Brama tidak kuasa mencegah permintaan Bethara Guru dan Durga. Brama pasrah anaknya Drestanala direbut paksa Bethari Durga.
Arjuna tidak dapat menerima keputusan Bethara Guru untuk memisahkan dirinya dengan Drestanala. Bahkan Arjuna dilarang menemui Drestanala. Para dewa terpecah atas keputusan Bethara Guru tersebut. Narada sebagai wakil Guru mengingatkan bahwa perilakunya dapat menyulut kemarahan pamong Pandawa yakni Semar Badranaya.
Baca juga : Kebakaran Hebat Kedaton Alengka
Keputusan Guru sudah bulat. Drestanala direbut paksa dan diberikan kepada Dewa Srani. Drestanala menjerit tidak mau dipisahkan dengan Arjuna. Rupanya jeritan Drestanala membuat jabang bayi dalam kandungan lahir prematur.
Jabang bayi laki-laki anak Drestanala dan Arjuna diambil dan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Jabang bayi tanpa dosa ikut menanggung kemarahan Bethara Guru dan Durga. Jabang bayi bukannya tewas dalam kobaran api kawah Candradimuka. Kawah justru bergolak dan menyebabkan bencana hebat.
Pemuda gagah perkasa tiba-tiba muncul dari kobaran api kawah Candradimuka. Anak Arjuna dan Drestanala telah menjelma menjadi pemuda sakti mandraguna. Semar sebagai pamong berhasil menyelamatkan jabang bayi tersebut. Jabang bayi diberi nama Wisanggeni. Yang artinya satria sisa dari kobaran api.
Baca juga : Fenomena Pagar Tinggi Argakaelasa
“Hubungannya apa dengan bencana alam, Mo?” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Bencana alam merupakan peringatan dari Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan manusia,” jawab Romo Semar pendek. “Bethara Guru sebagai pimpinan para dewa berbuat zalim kepada Arjuna. Maka muncul goro-goro di kawah Candradimuka. Maraknya bencana alam harus dimaknai sebagai sarana mawas diri dan introspeksi,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.