Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kritik dan saran dalam alam demokrasi merupakan hal yang lumrah. Kritik berfungsi sebagai sarana evaluasi diri. Sedangkan saran merupakan solusi untuk perbaikan sebuah sistem dan kinerja. Kritik objektif dapat meningkatkan kualitas keputusan. Di sisi lain, masukan dari luar dapat memperkaya cara berkomunikasi dan menambah rasa percaya diri.
“Jangan alergi terhadap kritik, Mo. Kritik ibarat vitamin yang menguatkan,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar tersenyum tidak mau komentar lebih jauh menanggapi pro dan kontra terhadap kritik. Romo Semar sedang siap-siap nobar pertandingan sepak bola dunia. Romo Semar memakai jersey kesebelasan Jepang sebagai bentuk solidaritas dukungan tim Samurai Biru dari benua Asia.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan Uli bakar dan pisang rebus menambah nikmat sarapan pagi padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Ramayana, ketika Prabu Rahwana alergi terhadap kritik Wibisana.
Baca juga : Di Ambang Perang Besar Baratayuda
Kocap kacarito, Prabu Rahwana adalah seorang raja dari kerajaan Alengka. Selain sakti mandraguna, Rahwana dikenal raja yang suka menaklukkan kerajaan lain. Rahwana merupakan anak tertua dari Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Rahwana berwujud raksasa dan kalau berbicara nadanya keras menggelegar seperti halilintar.
Rahwana memiliki tiga saudara. Kumbakarna merupakan adik kandung dan berwujud raksasa. Sedangkan Sarpakenaka merupakan saudara perempuan berwujud raksasi. Sarpakenaka dikenal sangat dekat dengan Rahwana. Kedekatan Sarpakenaka justru sering menimbulkan petaka bagi Rahwana. Karena masukan Sarpakenaka tidak selamanya baik dan bijak. Sarpakenaka lihai mengambil hati Rahwana. Dan sering memberikan masukan asal menyenangkan Rahwana.
Sedangkan Gunawan Wibisana merupakan anak ragil Begawan Wisrawa berwujud satria tama. Meskipun Wibisana lahir dari keturunan raksasa, ia memiliki wajah tampan. Wibisana menjunjung tinggi kebenaran dan bijaksana dalam bertindak.
Baca juga : Politik Dadung Awuk & Kebo Danu
Wibisana menentang keras penculikan Rahwana terhadap Dewi Sinta di hutan Dandaka. Dewi Sinta merupakan istri Prabu Rama dari Kerajaan Pancawati. Merebut istri orang merupakan perbuatan melanggar tatanan. Wibisana minta kakaknya Rahwana mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama.
Rahwana bukannya terima kasih sudah diingatkan atas perilaku menyimpangnya. Rahwana marah kepada Wibisana. Kemarahan Rahwana tidak terbendung lagi dan puncaknya Wibisana diusir dari parepatan agung. Wibisana tidak diperbolehkan lagi menginjakkan kakinya di Kerajaan Alengka.
Wibisana memilih meninggalkan bumi kelahirannya dan memilih bergabung bersama prabu Rama. Bergabungnya Wibisana kepada Rama menambah kekuatan pasukan Prabu Rama yang sebagian besar berwujud bala tentara kera. Dalam perang merebut kembali Dewi Sinta, Wibisana diangkat sebagai panglima perang melawan pasukan Alengka.
Baca juga : Miskomunikasi Prabu Matswapati
“Kerajaan Alengka hancur karena pemimpinnya alergi terhadap kritik, Mo," sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Terkadang kita sulit untuk menerima kritik dan masukan dari orang lain. Kritik konstruktif dapat memperbaiki diri dan menambah kualitas keputusan yang diambil,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.