BREAKING NEWS
 

Reartikulasi Spirit Fikih

Minggu, 11 Oktober 2020 06:20 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - FIKIH adalah interpretasi secara kultural terhadap Al-Qur’an dan Hadis. Konsekwensi Allah SWT menciptakan hambanya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (Q.S. Al-Hujurat/49:13) maka setiap suku dan bangsa mempunyai cultural right untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Hadis.

Dengan demikian, Fikih Islam tidak semestinya berwajah tunggal untuk mengatur kehidu-pan masyarakat.Pencitraan Kitab Suci Al-Qur’an di dalam masyarakat juga masih lebih menonjol sebagai “Kitab Hukum” ketimbang “Tuntunan Moral”.

Akibatnya, ayat-ayat yang seharusnya menjadi pedoman moral (moral values) dipaksakan menjadi ayat-ayat hukum (legal-formalistic norms). Akibatnya lebih lanjut, yang terbentuk ialah umat yang religiousness, suatu kondisi dimana umat seperti berada di dalam kungkungan agama.

Baca juga : Tidak Bermasabodo Terhadap Kemungkaran

Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai agama lebih banyak dikesankan “membebani” umat, sehingga banyak yang meninggalkan ajaran agama meskipun masih tetap konsisten berkeyakinan seperti kolom agama yang ada di KTP mereka.

Adsense

Reartikulasi spirit Al-Qur’an diharapkan menciptakan umat yang religious mindedness, suatu kondisi dimana umat selalu berada di dalam keadaan menggenggam dan bukannya mereka yang digenggam oleh nilai-nilai agama.

Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai agama dirasakan sebagai sebuah kebutuhan dan dijadikan sebagai habit oleh para pemeluknya. Dalam kondisi ini juga nilai-nilai agama tampil sebagai motivator dalam menjalani kehidupan.

Baca juga : Keutamaan Pemimpin Yang Adil (2)

Tokoh-tokoh agama dihargai dan diapresiasi sebagai “sang pencerah” ketimbang sebagai “mufti” yang menentukan hitam-putihnya sebuah kehidupan.

Cara menghargai Kitab Suci selama ini masih identik dengan pengkultusan teks dan manuskrip Al-Qur’an. Tidak heran jika Al-Qur’an dicetak dalam edisi yang sangat luxury lalu disimpan di dalam rak terdepan dan paling atas, akibatnya jarang disentuh dan didalami maknanya.

Ada lagi yang membungkusnya dengan berbagai lapis lalu disimpan di dalam peti atau boks untuk memberikan kesan sakral. Cara memuliakan Al-Qur’an ialah mengamalkan isi dan kandungannya. Al-Qur’an bukanlah kitab antik untuk disakralkan apalagi untuk dimistikkan.

Baca juga : Keutamaan PemimpinYang Adil (1)

Al-Qur’an berisi tuntunan hidup 24 jam kehidupan umat manusia, sehingga perlu berada di sisi paling gampang untuk diakses manusia. Dengan cara seperti ini, maka Al-Qur’an akan tampil sebagai hudan li al-nas wa rahmah (petunjuk dan rahmat bagi manusia) ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense