BREAKING NEWS
 

Dwi Suryo Abdullah, Vice President Public Relation PLN

EBT, Peluang Menuju Industri Kelistrikan Ramah Lingkungan

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Selasa, 4 Juni 2019 06:08 WIB
Dwi Suryo Abdulah, Vice President Public Relation PLN & Pemerhati Energi Ramah Lingkungan. (Dok Istimewa)

 Sebelumnya 
Upaya yang dilakukan pemerintah melaui PLN untuk mewujudkan target menuju Tahun 2025 dengan bauran energi 23 persen mengunakan Energi Baru dan Terbarukan secara masif terus dilakukan. Baik dalam pengembangan kapasitas rendah maupun implementasi dalam kapasitas yang cukup besar, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Sidrap. 

Dukungan Pemerintah sangat besar pengaruhnya terutama menyangkut regulasi yang berkeadilan dan sisi pendanaan, mengingat masih tingginya Biaya Pokok Produksi Pembangkit Listrik dari EBT dibanding dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU Batubara).

Baca juga : Geledah Rumah Tersangka Bom Kartasura, Polisi Temukan Sejumlah Barang Bukti

Mengupas sedikit tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai upaya perwujudan program listrik ramah lingkungan atau renewable energy akan sangat bermanfaat apabila diterapkan di pulau- pulau kecil atau sedang dengan type PLTS Komunal bukan PLTS Atap, mengingat ongkos angkut energi primer seperti solar / HSD , gas apalagi batubara ke pulau pulau seperti : kepulauan Maluku Maluku Utara, Kepulauan Sangie Talaud, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Madura , Kepulauan sekitar Bangka& Belitung, Kepulauan Riau dan Mentai maupun Nias.

Meski sudah ada yang memanfaatkan PLTS Komunal namun belum bisa maksimal karena tidak semuanya dilengkapi dengan Baterai sebagai penyimpun energi listrik dalam bentuk arus searah ( direct current ). Sehingga hanya bermanfaat selama 4 - 5 jam/ hari. Itupun hanya sekitar 10 - 20 persen dari daya maksimal dalam sistem 20 kV di remote area tersebut, sisanya rata-rata masih menggunakan PLTD.

Baca juga : Kapolda Jateng: Bom Kartasura, Serangan Kepada Pihak Kepolisian

Namun demikian, perlu dukungan dan perhatian yang lebih dari pemerintah agar pemanfaatan PLTS Komunal dengan teknologi baterai di remote area, khususnya daerah kepulauan bisa lebih besar 23 persen bauran energinya. Apalagi daerah tersebut secara sistem kelistrikannya terpisah (isolated) dan dikategorikan remote area, tidak hanya di kepulauan namun juga di daerah perkebunan dan dusun di lereng atau lembah pegunungan.

Namun jaringan listriknya jauh dari gardu induk atau pembangkit yang masuk sistem grid akan cocok untuk dikembangkan PLTS Komunal dengan Baterai. Yang menjadi kendala merealisasikan PLTS jenis ini pada umumnya selain pendanaan, juga lahan yang disediakan cukup luas, sebagai gambaran di Pulau Moro PLTS dengan daya 200 kWp membutuhkan lahan sekitar 2000 meter persegi. Dan produksi rata-rata setiap bulannya 17.200 kWh.

Baca juga : Di Penghujung Ramadan, Oesman Sapta Undang KH Maruf Amin Buka Puasa Bersama

Pemanfaatan EBT secara maksimal bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil terutama dari minyak, gas dan batubara disamping sebagai perwujudan perusahan dalam mendukung program go green lingkungan yang bersih, tidak menambah polusi udara disekitar pembangkit listrik, sehingga mampu menjawab kebutuhan kebutuhan dunia. Apalagi sudah mulai ada konsumen listrik yang menghendaki energi listrik yang dibutuhkan untuk melayani proses produksinya diperoleh dari energi listrik yang ramah lingkungan (Renewable Energy) meski harus membayar diatas tariff reguler. 

Begitu pentingnya pengembangan dan pemanfaatan energi ramah lingkungan bagi dunia industri dimasa depan perlu didukung dengan regulasi yang mengatur tentang tarif jual ke pelanggan industri bila industri tersebut mempunyai komitmen untuk mendukung program pemanfaatan renewable energy. Sehingga gerakan pengurangan energi fosil tidak hanya ditujukan kepada PLN, tetapi pemerintah sebagai regulator juga perlu menetapkan tariff listrik renewable energy yang harus dibayar oleh pelanggan industri sebagai produsen. Agar langkah masif untuk mewujudkan bauran energi sebesar 23 persen menggunakan EBT bisa tercapai di Tahun 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense