Sebelumnya
Jangan Percaya Hoax
Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono meminta, Dinkes DKImemberikan penjelasan yang komprehensif terkait nyamuk wolbachia, sehingga warga tidak salah paham. Karena, di media sosial, viral berbagai informasi keliru tentang nyamuk wolbachia.
“Saya lihat di media banyak pertanyaan-pertanyaan itu (nyamuk wolbachia), ya hanya Dinas Kesehatan yang lebih tahu,” sambungnya.
Heru menegaskan, penjelasan ke masyarakat penting karena Jakarta menjadi salah satu dari lima kota yang menjadi wilayah penyebaran nyamuk wolbachia.
Dinkes DKI memastikan penyebaran nyamuk wolbachia mengacu pada Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan Nomor 1341 Tahun 2022. SK tersebut mengatur tentang penyelenggaraan pilot project penanggulangan DBD melalui wolbachia di lima kota, termasuk Jakarta.
Penyebaran nyamuk wolbachia di Jakarta dilakukan di Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar). Pemkot Jakbar sudah menyiapkan sekitar 4.100 ember bibit nyamuk berbakteri wolbachia.
Baca juga : Nyamuk Bionik Wolbachia Bisa Bikin Radang Otak? Cek Faktanya Di Sini
Dinkes mengajak masyarakat tidak mudah percaya hoax.
“Jangan mudah percaya hoax dan provokasi. Temukan info terpercaya di instagram @kemenkes_ri @ditjenp2p @wmp.indonesia @centertropmed,” kata Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama dalam keterangannya, Minggu (26/11).
Ngabila menyebut enam alasan kenapa harus mendukung terobosan ini. Pertama, ramah lingkungan, berbasis data dan bukti. Penerapan teknologi ini sudah diteliti Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak 2011 dengan bukti publikasi ilmiah internasional. Teknologi ini menurunkan 80-90 persen kasus DBD, perawatan dan penggunaan fogging.
Kedua, DBD adalah neglected tropical disease dan sudah dinyatakan endemis di Indonesia.
“Sangat tidak seksi dan dianggap sebagai penyakit tidak berbahaya, padahal termasuk lima besar jumlah kasus penyakit menular wabah yang perlu dicegah,” ucapnya.
Di Jakarta, lanjut dia, pola kasus DBD selalu sama dari tahun ke tahun. Kasus DBD terjadi mulai Desember dan puncaknya April. Kemudian, menurun.
Baca juga : Disebar Untuk Tekan Kasus DBD, Nyamuk Wolbachia Bukan Hasil Rekayasa Genetik
“Biasanya ada gap satu bulan sesudah puncak musim hujan, maka DBD masih bisa ditemukan. Bahkan ada siklus kenaikan kasus atau potensi KLB di Jakarta per tiga tahun, 2016, 2019, 2022,” jelas dia.
Ketiga, komitmen global 0 kematian dengue tahun 2030. Keempat, Wolbachia akan memandulkan/menghambat nyamuk aedes aegypti penular DBD agar tidak lagi membawa virus DBD DEN 1,2,3,4 dan manusia tidak lagi sakit DBD.
Kelima, wolbachia inovasi komplementer/tambahan intervensi selain Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus/gerakan 1 rumah 1 kader jumantik.
“Makanya implementasinya sangat hati-hati. Setelah berhasil di Yogya, Kemenkes dengan persiapan matang melalui pelatihan, sosialisasi, timeline yang terstruktur dan terukur melakukan perluasan area ke lima kota,” ujarnya.
Keenam, inovasi teknologi ramah lingkungan tanpa rekayasa genetik nyamuk dan tanpa modifikasi ekosistem.
Diungkap Ngabila, target Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2023 untuk 5 kota akan diambil satu kecamatan saja. Kecuali Semarang yang sudah persiapan lebih dulu dan kini sudah masuk kecamatan yang ketiga. Sedangkan Bandung sudah mulai di satu kelurahan pada minggu lalu.
Baca juga : Gibran: Saya Ini Kan Cuma Anak Ingusan
“Jakarta Barat masih proses sosialisasi kepada warga bersama kader, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), tokoh masyarakat agar implementasi berjalan sebaik mungkin berkat dukungan masyarakat,” tegasnya.
Data Kemenkes menyebut selama periode Januari -November 2023, kasus ini tercatat ada 76.449 kasus DBD dengan 571 kasus kematian. Kelompok umur dengan kematian tertinggi pada rentang usia 5-14 tahun.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu 29/11/2023 dengan judul Tepis Kabar Miring Soal Nyamuk Wolbachia, Dinkes DKI: Tak Bahaya, Digigit Cuma Bentol Aja
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.