Sebelumnya
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Erizon Safari berharap semua stakeholder dan masyarakat dapat turut serta terlibat dalam mensukseskan program penerapan teknologi wolbachia ini. Program ini menjadi bagian integral dari Strategi Nasional Pengendalian Demam Berdarah di Indonesia. Terutama di lima kota utama, yaitu Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang dan Bontang.
Inisiatif ini, diawali oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Implementasi Wolbachia sebagai Inovasi Penanggulangan Demam Berdarah. Hal ini menandakan langkah maju dalam perang melawan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
“Upaya mengatasi DBD dengan metode lama seperti PSN kan belum optimal. Semoga dengan metode dan teknologi wolbachia dapat lebih optimal. Jangan lupa, metode ini sudah diujicobakan di Yogyakarta dan terbukti efektif,” ujar Erizon yang menyebut pelepasan nyamuk ber-wolbachia akan dilakukan akhir September atau awal Oktober 2024.
Baca juga : Ditahan Imbang Si Ular Besar, Haaland Mati Kutu Di Etihad
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Oman Rohman Rakinda mendukung rencana Dinas Kesehatan (Dinkes) yang akan melakukan uji coba pelepasan 1.400 ember berisi telur nyamuk wolbachia di wilayah Kembangan Utara. Oman mengingatkan Dinkes agar memantau secara berkala uji coba inovasi nyamuk ber-wolbachia.
“Supaya objektif. Kita bisa mengukur efektivitas dari kerja si nyamuk wolbachia ini,” kata Oman di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (17/9/2024).
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini berharap pelepasan nyamuk ber-wolbachia dapat menekan kasus DBD yang sempat melonjak di Jakarta pada awal 2024.
Baca juga : Fikri Dan Daniel Trengginas
“Selain DBD, nyamuk wolbachia dapat menurunkan kasus penularan Chikungunya dan Zika. Sehingga kesehatan warga Jakarta bisa terjaga,” ungkap Oman.
Anggota DPRD DKI Jakarta M. Taufik Zoelkifli mengimbau Dinkes secara masif menggencarkan sosialisasi terutama kepada warga Kembangan. Sehingga tidak ada kekhawatiran akan adanya dampak negatif dari teknologi baru ini.
“Mudah-mudahan ada penelitian lebih lanjut, untuk meminimalisir kekhawatiran mengenai teknologi ini. Kalau berdampak baik, pasti kami mendukung,” ujarnya.
Baca juga : Benny Mamoto Dicecar Soal Kasus Ferdy Sambo
Dari informasi yang dihimpun, sebelumnya Yogyakarta pada tahun 2022 telah mengimplementasikan teknologi ini. Dan hasilnya menurunkan 77 persen kasus demam berdarah dan 86 persen kasus perawatan di rumah sakit.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Jumat, 20 September 2024 dengan judul Cegah Penularan DBD, 80 Persen Warga Kembangan Setuju Lepas Wolbachia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.