BREAKING NEWS
 

Tiru Bangkok Dan Paris Tangani Polusi Saat Kemarau

Jakarta Mau Pasang 1.000 Pemantau Kualitas Udara

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Minggu, 23 Maret 2025 06:50 WIB
Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto. (Foto: Instagram/sudinlhjakpus)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi periode musim kemarau masuk pada April. Puncaknya akan terjadi pada Juni, Juli dan Agustus 2025. Saat musim kemarau, selain kekeringan, kualitas udara Jakarta juga akan memburuk.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menggan­deng stakeholder terkait untuk membahas strategi menghadapi penurunan kualitas udara saat musim kemarau. Dinas LH akan meniru kota-kota besar dunia seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara.

Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, Jakarta perlu memiliki sistem peman­tauan udara yang lebih canggih seperti kota-kota besar dunia. Belajar dari kota lain, Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Peman­tauan Kualitas Udara (SPKU) dan Paris memiliki 400 SPKU.

Baca juga : Kalah Empat Kali Beruntun, Cavaliers Makin Letoy

“Jakarta saat ini sudah memi­liki 111 SPKU dari sebelumnya hanya lima unit. Ke depan, kami akan menambah jumlah sensor agar bisa melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat,” kata Asep, Rabu (19/3/2025).

Asep menjelaskan, keter­bukaan data menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis. Dibutuhkan langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara. Jadi, bukan hanya inter­vensi sesaat.

“Harus lebih terbuka me­nyampaikan data polusi udara agar intervensinya bisa lebih efektif,” kata Asep.

Baca juga : Prabowo: Komunikasi Ke Rakyat Perlu Kita Perbaiki

Dia mengatakan, DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sen­sors) agar pemantauan lebih luas dan akurat.

“Dengan upaya ini, sumber pencemaran dapat terdeteksi lebih jelas. Termasuk bagaimana polutan dari luar masuk ke wilayah Jakarta ,” ucapnya.

Kepala Sub Bidang Infor­masi Pencemaran Udara BMKG Taryono Hadi menyampaikan, fenomena El Nino tidak terjadi secara global tahun ini. Akibat­nya, musim kemarau di Indone­sia yang biasanya dimulai awal April diperkirakan akan mundur hingga akhir bulan.

Baca juga : MK Kembali Bikin Geger

Taryono menilai, puncak musim kemarau yang seharusnya terjadi lebih awal kini diprediksi mencapai intensitas tertinggi pada September.

“Kami melihat adanya pergeseran pola musim kemarau tahun ini. Jika biasanya berlangsung lebih cepat, kini musim kemarau diperkirakan mulai lebih lambat dan puncaknya bergeser ke Sep­tember,” ungkap Taryono.

Adsense

Dia juga menyoroti curah hujan memiliki peran penting dalam mengurangi polusi udara. Pada bulan-bulan kering seperti Juni hingga Agustus, kualitas udara di Jakarta cenderung memburuk karena meningkat­nya polutan di atmosfer.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense