Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tiru Bangkok Dan Paris Tangani Polusi Saat Kemarau
Jakarta Mau Pasang 1.000 Pemantau Kualitas Udara
Minggu, 23 Maret 2025 06:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi periode musim kemarau masuk pada April. Puncaknya akan terjadi pada Juni, Juli dan Agustus 2025. Saat musim kemarau, selain kekeringan, kualitas udara Jakarta juga akan memburuk.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menggandeng stakeholder terkait untuk membahas strategi menghadapi penurunan kualitas udara saat musim kemarau. Dinas LH akan meniru kota-kota besar dunia seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara.
Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, Jakarta perlu memiliki sistem pemantauan udara yang lebih canggih seperti kota-kota besar dunia. Belajar dari kota lain, Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) dan Paris memiliki 400 SPKU.
Baca juga : Kalah Empat Kali Beruntun, Cavaliers Makin Letoy
“Jakarta saat ini sudah memiliki 111 SPKU dari sebelumnya hanya lima unit. Ke depan, kami akan menambah jumlah sensor agar bisa melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat,” kata Asep, Rabu (19/3/2025).
Asep menjelaskan, keterbukaan data menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis. Dibutuhkan langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara. Jadi, bukan hanya intervensi sesaat.
“Harus lebih terbuka menyampaikan data polusi udara agar intervensinya bisa lebih efektif,” kata Asep.
Baca juga : Prabowo: Komunikasi Ke Rakyat Perlu Kita Perbaiki
Dia mengatakan, DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors) agar pemantauan lebih luas dan akurat.
“Dengan upaya ini, sumber pencemaran dapat terdeteksi lebih jelas. Termasuk bagaimana polutan dari luar masuk ke wilayah Jakarta ,” ucapnya.
Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara BMKG Taryono Hadi menyampaikan, fenomena El Nino tidak terjadi secara global tahun ini. Akibatnya, musim kemarau di Indonesia yang biasanya dimulai awal April diperkirakan akan mundur hingga akhir bulan.
Baca juga : MK Kembali Bikin Geger
Taryono menilai, puncak musim kemarau yang seharusnya terjadi lebih awal kini diprediksi mencapai intensitas tertinggi pada September.
“Kami melihat adanya pergeseran pola musim kemarau tahun ini. Jika biasanya berlangsung lebih cepat, kini musim kemarau diperkirakan mulai lebih lambat dan puncaknya bergeser ke September,” ungkap Taryono.
Dia juga menyoroti curah hujan memiliki peran penting dalam mengurangi polusi udara. Pada bulan-bulan kering seperti Juni hingga Agustus, kualitas udara di Jakarta cenderung memburuk karena meningkatnya polutan di atmosfer.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya