BREAKING NEWS
 

Pramono: Pendatang Baru Bikin Angka Kemiskinan Di Jakarta Melejit

Reporter : FATIMAH AZ ZAHRA
Editor : MARULA SARDI
Sabtu, 26 Juli 2025 20:10 WIB
Pemukiman kumuh di Jakarta menjadi tantangan pemerintah dalam mengatasi kesenjangan ekonomi, khususnya di wilayah perkotaan yang terus mengalami pertumbuhan penduduk. (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai peningkatan angka kemiskinan di Jakarta sebesar 4,28 persen atau sekitar 15.800 jiwa.

"Apakah itu betul kemiskinan karena semata-mata warga yang ada di Jakarta atau memang sekarang persoalannya orang menaruh harapan yang tinggi untuk datang di Jakarta. Dan itu datang dari berbagai daerah," ujar Pramono di Anjungan Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat (25/7/2025).

Adsense

Baca juga : Pertamina Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Palembang

Dia menambahkan, banyaknya pendatang baru yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dapat menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi angka kemiskinan.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)  DKI Jakarta Nurul Hasanudin mengungkapkan kenaikan angka kemiskinan di Ibu Kota pada Maret 2025 dipicu oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan garis kemiskinan dan ketidakstabilan harga kebutuhan pokok.  

“Memang banyak faktor. Bukan hanya urbanisasi, tapi juga faktor-faktor lain yang boleh jadi terkait dengan kenaikan garis kemiskinan,” ujar Nurul dalam keterangannya dikutip Sabtu (26/7/2025). 

Menurutnya, ketika garis kemiskinan naik, penduduk yang sebelumnya berada sedikit di atas garis tersebut berisiko masuk kategori miskin. Oleh sebab itu, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi sangat penting, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.

“Kebutuhan pokok masyarakat harus bisa dijangkau, terutama untuk masyarakat miskin. Ini penting, khususnya dalam konteks komponen kebutuhan pokok yang masuk dalam basket angka kemiskinan kita,” tegasnya.

Dalam rilis resmi BPS, tingkat kemiskinan di Jakarta pada Maret 2025 tercatat sebesar 4,28 persen, meningkat 0,14 persen poin dari September 2024 yang sebesar 4,14 persen. Meski begitu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Maret 2024), angka ini sedikit turun dari 4,30 persen.

Adapun jumlah penduduk miskin di Jakarta pada Maret 2025 mencapai 464,87 ribu orang, atau naik 15,80 ribu orang dibandingkan September 2024 yang sebesar 449,07 ribu orang.

Garis kemiskinan pun meningkat menjadi Rp 852.798 per kapita per bulan, naik 6,79 persen dari September 2024. Dari total nilai tersebut, 69,41 persen berasal dari pengeluaran makanan dan 30,59 persen dari pengeluaran non-makanan.

Komoditas makanan yang paling memengaruhi garis kemiskinan antara lain:

Sementara itu, dari sisi bukan makanan, pengeluaran terbesar berasal dari:

BPS juga mencatat bahwa kenaikan garis kemiskinan tak lepas dari tren inflasi yang meningkat sejak Oktober 2024 hingga Maret 2025. Inflasi Jakarta bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Beberapa komoditas yang turut mendorong inflasi dalam periode Februari–Maret 2025 mencakup tarif air minum, sewa rumah, beras, daging sapi, sayuran, serta upah asisten rumah tangga, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Data ini menegaskan pentingnya menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi sebagai bagian dari strategi penanggulangan kemiskinan,” pungkas Nurul.

Baca juga : Wamenperin: Penguatan Komponen Lokal Kunci Majukan Industri Perkeretaapian

"Maka orang yang mencari pekerjaan di Jakarta sekarang ini naik secara signifikan," imbuhnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense