Sebelumnya
Namun, Asep mengingatkan, teknologi saja tidak cukup tanpa peran aktif masyarakat. “Kalau masyarakat aktif memilah, beban Bantargebang akan berkurang, karena hanya residu yang dikirim ke sana,” jelasnya.
Dinas LH DKI juga mendorong sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeca) ikut ambil bagian. Pelaku usaha diwajibkan mengelola sampahnya secara mandiri sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 102 Tahun 2021. “Ini bukan lagi pilihan, tapi kewajiban,” tegas Asep.
Dia mencontohkan, sampah makanan bisa diolah menjadi kompos atau melalui biokonversi, seperti maggot (untuk pakan ikan atau unggas). “Pelaku usaha juga harus menyediakan empat jenis tempat sampah untuk memudahkan pemilahan,” tandasnya.
Baca juga : Bayern Munchen Vs Real Madrid, Pemenang Paling Pede
Menurut Asep, sektor komersial punya peran besar dalam mengurangi timbunan sampah. Karena itu, pengelolaan sampah harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar kewajiban administratif.
“Kami mengajak sektor Horeca jadi bagian dari solusi, mulai dari tempat usahanya masing-masing,” pungkasnya.
Masih Bergantung TPST Bantargebang
Pada awal April 2026, sempat terjadi penumpukan sampah di sejumlah lokasi di Jakarta. Bukan karena petugas sampah libur Lebaran. Mengingat, saat itu musim libur Lebaran telah usai.
Baca juga : Rookie Of The Year 2025 Moto2, Daniel Holgado Dijagokan Masuk Kelas Utama
Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, permasalahan ini dipicu tidak berfungsinya Zona 4A TPST Bantar Gebang, akibat longsor gunung sampah menjelang Lebaran 2026. Peristiwa ini menimbulkan korban jiwa, antara lain dua sopir truk sampah DKI.
“Selama 10-12 hari, Zona 4A, tidak bisa digunakan, menyebabkan penimbunan di berbagai tempat sampah,” ujar Pram di Balai Kota Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Apa yang disampaikan Pram pada awal April 2026, mengindikasikan bahwa Jakarta memang bergantung kepada TPST Bantargebang.
Baca juga : PBB: Krisis Kemanusiaan Di Gaza Makin Memburuk
Pram mengakui, dalam beberapa hari pada awal April, penumpukan sampah sempat terlihat signifikan di sejumlah titik, antara lain di Kramat Jati, Jakarta Timur. “Bukan hanya di Kramat Jati, di beberapa tempat juga terjadi,” katanya.
Namun, lanjut Pram, beberapa hari kemudian, pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang sudah kembali berjalan secara bertahap.
Ke depannya, Pram setuju bahwa Jakarta harus mengurangi ketergantungan terhadap TPST Bantargebang dengan berbagai upaya. “Karena, beban Bantargebang sudah terlalu berat. Di sana sudah ada 55 juta ton sampah,” tandasnya. [DRS/RAA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.