RM.id Rakyat Merdeka - Permukiman padat penduduk di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, sudah dua kali mengalami kebakaran. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa realisasi pencegahan kebakaran di lokasi tersebut belum dilakukan optimal.
Peristiwa kebakaran kedua terjadi pada Senin malam (1/6/2026). Musibah ini menghanguskan sedikitnya 304 rumah.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Kevin Wu mempertanyakan, mengapa kawasan tersebut masih mengalami kebakaran besar, padahal peristiwa serupa pernah terjadi pada awal 2025.
Baca juga : Prancis, Misi Terakhir Sang Maestro
Kevin berharap, tragedi Kebon Kosong menjadi pelajaran penting agar langkah mitigasi kebakaran tidak hanya dilakukan setelah musibah terjadi, tetapi diperkuat sejak dini. Langkah itu bisa dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, edukasi masyarakat, dan pengawasan instalasi listrik di kawasan padat penduduk.
“Saya menyampaikan keprihatinan sebesar-besarnya atas kebakaran yang terjadi di Kebon Kosong. Saya harap, para korban yang dirawat, dapat segera pulih serta berkumpul kembali dengan keluarganya,” ujar Kevin, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, kebakaran yang kembali terjadi, menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran di kawasan tersebut.
Baca juga : Jalani Tiga Laga Uji Coba, Curacao Datang Dengan Bus Sekolah
“Ini bukan pertama kalinya Kebon Kosong mengalami kebakaran besar. Tahun lalu, kebakaran juga terjadi di lokasi yang sama,” ingat Anggota Komisi A DPRD DKI ini.
Padahal, menurut dia, kawasan yang telah diketahui rawan kebakaran seharusnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
“Pemprov seharusnya sudah bisa mengantisipasi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Harus ada peningkatan infrastruktur yang mampu mencegah, maupun mempercepat penanganan kebakaran,” tegasnya.
Baca juga : Jemaah Haji Bergeser Ke Madinah, Hotel Mewah Menanti
Untuk itu, Kevin mendesak Pemprov DKI melakukan evaluasi menyeluruh, saat proses penataan dan pembangunan kembali kawasan terdampak.
Dia meminta pemasangan hidran air diperbanyak di titik-titik rawan, distribusi Alat Pemadam Api Ringan (APAR) melalui program “1 RT 1 APAR” dilakukan secara merata, serta akses keluar-masuk mobil pemadam kebakaran diperluas. “Agar penanganan lebih cepat,” ucapnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.