BREAKING NEWS
 

Ade Suherman Dorong APBD-P 2026 Perkuat Pengelolaan Sampah Mandiri

Reporter : FATIMAH AZ ZAHRA
Editor : FAQIH MUBAROK
Kamis, 20 Agustus 2026 17:02 WIB
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi PKS sekaligus Anggota Komisi B, Ade Suherman. Foto: DPRD DKI

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi PKS sekaligus Anggota Komisi B, Ade Suherman mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat anggaran untuk pengelolaan sampah mandiri dan pengembangan urban farming di tingkat kelurahan.

Dorongan tersebut disampaikan seiring upaya Pemprov DKI Jakarta mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.

Menurut Ade, kebijakan pengelolaan sampah dari sumber harus diikuti dukungan anggaran, infrastruktur, sarana pengolahan, pelatihan, serta kolaborasi antarperangkat daerah.

“Instruksi saja tidak cukup. Kalau masyarakat diminta melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, pemerintah harus hadir dengan infrastruktur dan anggaran yang memadai. Jangan sampai masyarakat sudah didorong untuk mengolah sampah, tetapi sarana dan pendampingannya tidak tersedia,” ujar Ade dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).

Baca juga : KPK Mentahkan Pengakuan Anggota DPRD DKI Jakarta

Ade menilai pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat menjadi semakin penting di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.

Ade melihat pengolahan sampah organik dapat dihubungkan dengan pengembangan urban farming. Dengan konsep tersebut, sampah yang sebelumnya menjadi beban dapat diubah menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan pertanian perkotaan.

“Sampah organik yang ada di masyarakat sebenarnya bisa menjadi sumber daya. Kalau diolah menjadi kompos, kemudian diserap untuk kegiatan urban farming, kita membangun satu ekosistem. Sampah dikelola, kompos dihasilkan, kemudian digunakan untuk menanam pangan. Ini yang perlu kita dorong,” kata Ade.

Adsense

Dalam konteks Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ade menilai Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) memiliki peran strategis dalam membangun keterhubungan antara pengelolaan sampah organik dan pengembangan urban farming.

Baca juga : Tarif Transportasi Warga Pulau Seribu Lebih Murah

“KPKP punya ruang yang sangat strategis. Kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik masyarakat bisa diserap untuk pengembangan urban farming. Jadi ada keterhubungan antara pengelolaan sampah dengan ketahanan pangan,” jelas Ade.

Ade berharap konsep tersebut dapat diterapkan lebih luas di tingkat kelurahan. Dengan adanya fasilitas pengolahan sampah dan sarana urban farming, masyarakat diharapkan dapat terlibat langsung dalam mengurangi sampah sekaligus memanfaatkan hasil pengolahannya.

“Saya berharap ada alokasi anggaran yang lebih kuat untuk urban farming. Bukan hanya bibit, tetapi juga sarana pendukung dan pelatihan masyarakat. Kalau bisa setiap kelurahan memiliki ekosistem urban farming yang terhubung dengan pengelolaan kompos dari sampah organik,” ujar Ade.

Konsep tersebut, kata Ade, dapat menciptakan manfaat ganda. Sampah organik yang diolah di tingkat masyarakat dapat mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Baca juga : Andika Dorong BUMD DKI Genjot PAD

Ia mendorong perubahan pola pengelolaan dari sekadar “angkut dan buang” menjadi “pilah, olah, manfaatkan”. Pemerintah, menurutnya, memiliki peran dalam menyediakan infrastruktur dan sistem pendukung, sedangkan masyarakat dapat terlibat dalam proses pengelolaan di lingkungan masing-masing.

"Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menghasilkan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. Pemerintah memberikan infrastrukturnya, masyarakat mengelola, komposnya dimanfaatkan untuk urban farming, dan hasilnya kembali memberikan manfaat kepada masyarakat,” tegasnya.

Menurut Ade, pola tersebut dapat membentuk sebuah ekosistem yang menghubungkan pengurangan sampah, pengolahan sampah organik, produksi kompos, kegiatan pertanian perkotaan, hingga pemanfaatan hasilnya oleh masyarakat.

“Kalau kita serius ingin mengurangi sampah yang dikirim ke Bantar Gebang, maka pengurangan harus dimulai dari sumbernya. Pemerintah perlu berani berinvestasi membangun ekosistem pengelolaan sampah mandiri. Dan urban farming bisa menjadi salah satu mata rantai penting dalam ekosistem tersebut,” tutup Ade Suherman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense